Tangis Jelek Ibu di Pasar

Filed Under (Cerpen) by redaktur on 17-07-2006

Pagi ini aku bangun dengan tergesa-gesa. Setelah jam wekerku berbunyi lima kali, aku segera beranjak ke kamar mandi. Cuci muka lalu gosok gigi. Dengan bersemangat, aku bernyanyi lagu kesukaanku tiap pagi. “ Bangun pagi ku terus mandi. Tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi ku….”. Tiba-tiba laguku terpotong karena kudengar ketukan halus di pintu kamar mandi. “ Adik, Ibu mau ke pasar. Adik mau ikut Ibu, tidak ?”, sapa Ibuku halus di balik pintu. Oh, rupanya Ibu yang mengetuk pintu. “ Iya Bu, Adik ikut. Tunggu ya, Bu “, jawabku sambil cepat-cepat mengeringkan wajahku dengan handuk.

Setelah gosok gigi, aku pun sgera menghampiri ibu yang sudah menungguku di luar. Kulihat ibu sudah berdiri di depan pagar sambil menenteng tas belanjaan merahnya. Hup, hup, kumeloncat-loncat di antara batu-batu yang berjajar rapi di rumahku dan hup…langsung kugandeng tangan Ibu. Ibu melihatku dengan senyumnya yang cantik. Dan kita pun akhirnya bersama-sama berangkat ke pasar.

Aku menyukai hari Minggu pagi. Karena Ibu biasanya akan mengajakku ke pasar. Di pasar itu aku bisa melihat orang melakukan bermacam-macam kegiatan. Ada yang berteriak-teriak, “ Mari Bu sini. Sayurnya masih seger-seger, lho. Mau beli berapa ikat, Bu ?”, atau “ Yang manis…yang manis…Neng. Mangganya manis, Neng. Mari beli”. Hi hi hi rasanya geli melihat di sepanjang jalan orang-orang itu akan menawari kita barang dagangannya. Biasanya ibuku akan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dan aneh, pedagang-pedagang itu sepertinya tahu kalau Ibu tidak ingin membeli barang dagangannya, padahal ibu tak bicara apa-apa.

Kalau ke pasar ibu suka mengunjungi tempat orang jual buah-buahan. Di sana ada penjual wanita yang bertubuh gemuk. Tapi meskipun ia gemuk, ia terlihat gesit ketika melayani pembelinya. Biasanya ia bicara dengan bahasa yang aneh. Suaranya keras sekali sampai terkadang aku agak menjauh agar telingaku tak sakit. Ia begitu bersemangat menjajakan dagangannya. Ibuku senang membeli buah-buahan di sana, karena katanya wanita itu sering memberinya potongan harga. Jadi, ibu bisa membayar lebih murah. Terkadang ia juga mengajakku berbicara, “ Nona cantik, suka makan buah-buahan, tidak ? “, tanyanya padaku. “ Mmm…suka”, jawabku malu-malu. “ Ya memang mesti begitu. Biar nggak mudah sakit, harus banyak makan buah-buahan, ya. Nih Ibu kasih Apel. Apelnya manis kok, dihabiskan ya ?”, tegasnya sambil mengulurkan sebuah apel berwarna merah padaku. “ Bilang apa, Dik ?”, sela ibuku. “ Terima kasih, Bu “, jawabku tersipu di balik lengan ibu.

Setelah itu, Ibu akan melanjutkan ke tempat orang jual ikan segar. Aku tidak terlalu suka tempat itu. Di sana baunya tidak enak. Mungkin karena ikan-ikan itu kan sudah mati semua, jadinya mulai mengeluarkan bau amis. Ah, tapi kata Ibuku tempat jualan ikan memang mesti amis begitu. Selain bau amis, tempat itu juga banyak lalatnya. Di sana sini lalat itu mengerubungi ikan yang matanya sudah melotot semua. Tapi ada juga lho, ikan yang masih hidup. Ibuku lebih suka membeli ikan yang masih hidup itu. Katanya kalau masih hidup, ikannya masih segar jadi nggak takut salah pilih ikan. Soalnya, biasanya ikan yang dijual mati itu sudah beberapa hari dijual terus belum laku. Kalau dibiarin aja kena lalat kan semakin banyak kuman yang menempel. Ihhh…..

Eh iya, di pasar aku lebih suka ke tempat ibu tua penjual kue. Di sana ada donat, roti gulung, lemper, lumpia, dan yang paling aku sukai yaitu kembang gula. Hmm..rasanya yang manis dan seperti terasa ada yang meluncur di lidahku. Lembut sekali di mulut.
Pernah suatu kali aku tiba-tiba menghilang dari gandengan ibu. Soalnya, waktu itu Ibu sedang sibuk memilih-milih sayuran dan bumbu-bumbu. Aku malas menunggu Ibu. Selain karena udaranya yang panas, juga orang-orang mulai berdesakkan di sekitarku. Tubuhku disenggol-senggol oleh mereka. Apalagi waktu itu ada ibu-ibu berbadan besar sekali yang berdiri tepat di samping ibuku. Mungkin karena ia tak melihatku, jadi ia semakin seenaknya saja menghimpitku diantara pantatnya dan pantat ibuku. Uuuhh…sesak sekali rasanya.

Akhirnya aku melepaskan tanganku dari gandengan Ibu dan keluar dari kerumunan itu. Perutku tiba-tiba terasa lapar sekali. Aku ingin makan sesuatu, tapi bagaimana yah ?. Ibuku masih dalam antrean itu. Wah, dari pada nunggu Ibu lebih baik aku beli kue sendiri saja deh. Kebetulan aku punya uang lima ratus rupiah di kantongku. Aha ! aku melihat ada seorang anak keluar dari kerumunan orang sambil membawa kue donat. Langsung kulangkahkan kakiku ke sana cepat-cepat agar ibuku tak berpindah tempat sebelum aku kembali.

Setelah beberapa penjual aku lewati, akhirnya sampailah aku di tempat penjual kue itu. Wah…rasanya air liurku mau menetes. Di sana banyak sekali kue dengan warna yang bermacam-macam. Tapi mataku langsung tertumbuk pada kue berwarna merah muda yang dibungkus plastik. Itu adalah kue kembang gula. Ibuku dulu pernah membelikanku saat jalan-jalan di alun-alun bersama ayah. Pertama kali ibuku memberikannya padaku aku langsung melonjak-lonjak kegirangan. Warnanya bagus sekali dan mmm….rasanya sangat manis. Sejak itu, aku tak pernah lupa untuk minta dibelikan kembang gula saat berjalan-jalan di alun-alun.

Kemudian kusodorkan uangku ke penjual kue itu, “ Bu saya beli kembang gula itua”, tunjukku. Ia mengambilkannya dan menyodorkan padaku. Uang lima ratus rupiah di kantongkus segera kuulurkan padanya. Namun, ia menatapku tanpa mengambil uang itu . “ Nak, harganya seribu. Uangmu cuma lima ratus rupiah, jadi masih kurang”, terangnya. Yah….padahal aku sudah membuka bungkusnya dan mengambilnya sesuap. Aku pun akhirnya berkata, “ Sebentar ya Bu, aku akan meminta uang pada ibuku dulu. Kuenya saya tinggal di sini dulu”. Ia berhenti sejenak menatapku dan…. , “ Baiklah, tapi segera kembali, ya “. Aku pun mengangguk dan bergegas pergi.
Di tempat ibuku berkerumun tadi aku berusaha mencari-cari Ibu. Lho, tapi Ibu kok tidak ada ?!. Aku berusaha mencari di dalam kerumunan itu, tapi ternyata tetap tidak kutemukan. Air mataku mulai menetes. Dengan lirih kupanggil, “ Ibu…Ibu…”. Sampai akhirnya tempat itu sepi dan tak kulihat Ibu sama sekali. Sambil melangkah dengan takut-takut, aku menghampiri penjual kue itu lagi. Aku pun memberanikan diri untuk bicara padanya. “ Bu, maaf ternyata Ibuku sudah tidak ada. Saya tidak punya uang lagi”, terangku. Dan…hhuuaa….aku menangis kencang-kencang di hadapannya. Ibu tua itu kemudian memelukku dan berusaha menenangkan aku.
Tak lama kemudian dari gang di sampingku kudengar ada yang berteriak , “Araaa….”. Ups, ada yang memanggil namaku. Aku menolehkan kepala kea rah itu. Dan kulihat Ibuku sudah berlari ke arahku sambil menenteng tas belanjaannya yang terlihat berat itu. Wajahnya pucat penuh keringat. Mungkin ia lelah berkeliling mencariku. Aku pun serta merta berlari ke arahnya dan memeluk perutnya erat-erat. “ Ibuuu……..”, sakku di pelukannya. Orang-orang di sekitarku pun tak luput melihat kami. Baru kali ini kulihat Ibu menangis. Rupanya wajah Ibu kalau menangis jelek sekali, karena mukanya memerah dan keluar ingus dari hidungnya.
Setelah tangisku reda, Ibuku mengajakku pulang dan tak lupa membayar kekuranganku yang tadi. Sambil berlalu pergi, Ibu tua itu tak lupa melambaikan tangannya padaku. Ah, aku berjanji esok hari aku akan ke sini lagi. Ternyata kembang gula ibu tua itu sangat enak. Tapi, aku akan mengajak ibuku. Sambil digandeng Ibu, kupikir ia akan memarahiku tapi ternyata ia malah menasehatiku agar suatu saat nanti minta ijin terlebih dulu jika ingin pergi ke suatu tempat. Senangnya hatiku punya Ibu yang begitu baik.
Sejak saat itu, aku selalu minta ijin pada Ibu kemana pun aku akan pergi. Karena aku tidak mau melihat Ibuku menangis lagi. Ibuku lebih cantik kalau tersenyum. Kata Ayah, senyum Ibu itulah yang membuatku hadir di dunia ini. Sebenarnya maksud Ayah apa, ya ? Ah, mungkin itu semacam pembicaraanya orang-orang yang sudah se’gede’ mereka.

Jadilah setelah Ibuku mengajakku berkeliling pasar, kami pun pulang. Satu hal yang aku sukai juga, yaitu kita selalu pulang naik becak. Aku menyukainya karena aku bisa melihat kendaraan di sekitarku dan rasanya sejuk sekali karena bisa merasakan angin yang berhembus. Tak jarang akhirnya aku tertidur di pangkuan Ibu karena saking enaknya. Perjalananku ke pasar sungguh sangat menyenangkan. Esok hari aku pasti akan menantikan perjalanan ke pasar lagi.

PERSERIKATAN MAHASISWA: Sesak ‘Birokrasi-Jaringan-Teman’

Filed Under (Esai) by redaktur on 09-01-2005

Kalau diperhatikan dengan sedikit ’usil’ saja, akan terlihat bahwa pada sistem apapun dan di manapun cenderung stagnan-seperidem. Dari sistem bertaraf kenegaraan sampai sistem dan tatacara dalam serikat-serikat kecil. Kenapa ???. apakah hanya karena tidak ada yang berpikir kreatif, inovatif atau tak tahu alternatif saja. Atau ada yang berpikir, tapi sebatas pikiran doang. Sebab tak mampu merealisasikannya. Terbentur dengan kepentingan. Atau mungkin “semua” sudah merasa asyik-enak dengan sistem dan tata cara yang ada, tanpa mengkaji kembali sisi relevansi, kebergunaan dan menunjang kemanusiaan tidaknya.

Bagaimana Nicollo Machiavelli dalam bukunya “The PRINCE” (1515) menuliskan “ There is nothing difficult to plan, more uncertain in its success, not more dangerous to manage than creation of a new system. Because the innovator has enemies of all who would profit by the preservation of the old institution and morely luke warm defenders in these who would gain by new ones”. Dan, ia tidak salah, ketika kita mau mengaca, kemudian mencermati organisasi-organisasi yang berdekatan dengan kita. Kenapa kecenderungan stagnan-seperidem itu terjadi pada ormawa kita, katakanlah seperti itu. Sistem dan serangkaian tatacara yang paling berdekatan dengan kita. Potongan dari tulisan Nicollo Machiavelli tersebut pas dan mengena. Bahwa kalangan pengusung perubahan demi kebaikan semua akan “menghadapi” pihak yang berkepentingan dengan sistem lama. Dan hanya mendapat dukungan setengah hati dari pihak yang ingin meraih keuntungan pada sistem baru.

Nggak usah jauh-jauh pada sistem dan perilaku politik kenegaraan. Atau sistem dan tata cara pendidikan yang sudah jelas tidak begitu mendidik banyak, tidak banyak membenahi. Tapi yang dekat-dekat sajalah, organisasi kemahasiswaan. Tempat belajar berorganisasi dan mengorganisasi, kepemimpinan dan memimpin (min. Memimpin diri sendiri). Tempat mahasiswa menemukan mutiara dalam diri yang tidak pernah dikembangkan oleh pendidikan formal.

Di sana ada sistem dan tata cara. Bagaimana kabar sistem-tata cara keormawaan sekarang??? Kawan/teman/sahabat…!!!. Baik-baik sajakah??. Sistem keormawaan sudah rusak. Demokrasi telah mati didalamnya. Sebagian mengatakan begitu. Entah mati karena sudah tua. Atau mati karena sengaja dibunuh. Yang pasti, perubahan yang diinginkan “rakyat” dianggap keinginan anak kecil yang belum akil baligh. Kata orang, jangan dituruti…..nanti makin melonjak, manja, bahkan kadang menjadi nakal.

Hal ini jelas, sebuah indikasi adanya pro status quo, atau keengganan berubah atau paling tidak telah dholim dalam mendidik anak. Perubahan yang terjadi dianggap bukan berubah menjadi lebih baik. Padahal perubahan (seakan) harus diusung dengan dinamika. Dimana ada dinamika disitu ada proses. Proses yang dilakukan oleh anak yang belum baligh bukanlah sebuah kesesatan sisi hukum, apalagi dosa. Melainkan lebih pada proses pencarian jati diri dan kesejatian.

Kita, civitas akademika IKIP Malang (setidaknya masih mengakui kedirian sesungguhnya UM) mesti bijak mendidik anak. Dimana anak hidup bukan pada waktu dan kewaktuan hidup kita seusia mereka. Yang hidup era soeharto tentu berbeda dengan yang hidup di era reformasi-reformasian ini. Lalu apakah tindakan “represif-destruktif” terhadap tingkah pola anak dapat dibenarkan. Jawabnya, tidak bisa. Oleh siapapun dan berstatus apapun.

Jelaslah, kalau organisasi kemahasiswaan di intern Universitas Negeri Malang dikatakan stagnan-sperindem. Paling baik, dapat dikatakan berjalan lamban. Dan ironisnya hal ini seakan menjadi sebuah hal yang biasa-biasa saja, yang seakan harus selalu dibiasakan.

Kecerdasan mahasiswa dinilai ‘membahayakan’. Keberanian mahasiswa mengutarakan apa yang dianggapnya benar (dalam lingkup proses pencarian) dianggap brutal. ‘Perjuangan’ mahasiswa mencipta kebebasan belajar, berkreasi dan memahami keilmuan secara (mendekati) ideal melalui ide-ide dan usaha merombak sistem pendidikan intern kampus, dinilai nakal. Mahasiswa yang peduli dengan kebobrokan mental ‘penguasa’ kampus, dikata menyimpang dari ril dan keluar dari gerbong studi. Lalu apakah ketimpangan dan keselegenjean (meminjam istilah Mujib Anwar) yang berkaitan dengan pendidikan dikatakan tidak berkaitan dengan pendidikan. Kebobrokan yang melahirkan kurikulum yang mulai tidak relevan, bisa dikatakan tidak berkaitan dengan pendidikan???.

Sementara ormawa intern kampus yang punya kelebihan mampu mengembangkan mutiara yang tidak pernah terdeteksi oleh kurikulum pendidikan formal, dapat berkembang didalamnya. Kenapa tidak dibangun??. Dengan memberi fasilitas yang memadai. Agar mahasiswa dapat berkreasi, belajar dengan baik, yang benar-benar kulliyyah bukan juzziyyah.

Kata orang, kalau mahasiswa dibebaskan untuk belajar, berkreasi, dan berbuat untuk bangsa, maka ujung-ujungnya sama dengan mencipta bumerang bagi yang ingin berlama lama menikmati kursi birokrasi. Ya…nggak bisa korup dong..!!.

Agak kedepan. Disana pasar bebas menunggu “gaya lenggang” generasi bangsa yang sekarang masih dalam masa penggodokan. Tungku penggodokannya sekarang terpuruk dalam kubangan ‘birokrasi-jaringan-teman’, sistem yang dehumanistik-koruptif.

Ya, bangun sistem pendidikan, kebebasan berpikir, berorganisasi/ berserikat, berpendapat, dan kebebasan berkreasi melalui organisasi kemahasiswaan. Ciptakan pemerintahan mahasiswa yang demokratis, jujur, mendidik, dan bukan pemerintahan mahasiswa yang kotor oleh kepentingan birokrasi jaringan teman.

Kalau masih ada pro status quo (TAK LAIN birokrasi-jaringan-teman), WASPADAI, ia adalah yang mendapat keuntungan bagi kepentingannya dari sitem lama. Karenanya ia mempertahankan. Serta waspada pada dukungan setengah hati dari pihak yang mendapat keuntungan pada sistem–tatacara baru.

***Ormawa Perlu Reformasi Sejati….

Penulis adalah mahasiswa yang masih mengatasi penderitaannya.

WISMA IKIP

Filed Under (Liputan) by redaktur on 09-01-2005

Sepintas, tak ada yang menarik dari bangunan di jalan Tumapel 1 itu. Seperti kebanyakan rumah peninggalan kaum penjajah Belanda yang lain, berdiri angkuh dan pongah dalam ketuaan usianya. Bangunan ini terasa sedikit berbeda dengan yang lain. Ada papan besi di depannya yang tertuliskan “Wisma IKIP” dengan besi yang sudah berkarat dan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, ditambah lagi dengan cat yang sudah mengelupas di sana-sini. Boleh dikata, kalau papan nama dan bangunannya sangat kompak dalam hal usia dan penampilan yang sangat tidak pantas untuk dikatakan sebagai tempat tinggal dosen-dosen pendidikan yang bekerja di IKIP atau Universiats Negeri Malang di kala ini.

Keberadaan aset pemerintahan Belanda seluas 5000 m2 tersebut, pada awalnya merupakan Hotel Spliendid. Hotel yang cukup terkenal itu, pada pemerintahan jaman Jepang digunakan sebagai kantor Reserse Kepolisian Jepang. Dan di jaman kemerdekaan setelah dinasionalisasikan oleh DPRD kota Malang, bangunan ini dijadikan kampus Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) yang pertama ada di Indonesia. PTPG ini diresmikan pada tanggal 18 Oktober 1954. Dalam perkembangan selanjutnya pada tahun 1968 bangunan ini dimanfaatkan menjadi sebuah Wisma milik IKIP yang sebelumnya digunakan sebagai ruang kelas oleh Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan milik Universitas Airlangga Surabaya di tahun 1950-an.

Bangunan yang diberi nama Wisma IKIP itu dijadikan tempat tinggal oleh asisten dosen dan pegawai administrasi IKIP. Dengan alasan ingin memikat para asisten dosen agar tidak lari dari lembaga pendidikan ini, para asisten mendapat jatah untuk rumah dinas. Hal ini dikarenakan kenyataan di zaman itu sangat sulit sekali mencari orang yang berpendidikan guru. Guru atau dosen dianggap pekerjaan kering dengan gaji yang sangat minim. Jadi perlu ada daya tarik tersendiri yaitu dengan pengadaan fasilitas rumah dinas tersebut. Sedangkan di jaman sekarang asisten tidak lagi mendapat jatah karena sudah banyak orang yang mau menjadi guru atau dosen, bahkan antrian untuk pekerjaan ini sangat panjang. Walaupun demikian, asisten yang akan mendapatkan fasilitas tersebut harus melewati saringan yang sudah ditetapkan oleh peraturan universiatas.

Menurut sumber di bagian Rumah Tangga, mereka yang berhak menghuni Wisma tua itu adalah dosen, karyawan dan asisten yang telah memenuhi syarat penilaian tertentu yang didasarkan pada lama pengabdian dan prestasi kerja selama mereka ada di lingkungan kerja di Universitas. Banyak nilai yang harus diperoleh tidak sama antara dosen, asisten dosen dan pegawai.

Dari informasi yang diperoleh dari Profesor Habib Mustopo yang memiliki ruang Wisma terluas yaitu kurang lebih 250 m2, sejak tahun 80-an UM sudah lepas tangan. Dengan kata lain, UM sudah tidak mengurusi segala macam kebutuhan penghuni ataupun bangunan Wisma itu sendiri. Fasilitas terakhir yang dibangun dengan biaya yang berasal dari kantong UM adalah pagar pembatas di depan Wisma. Keadaan pagar yang sangat memprihatinkan tersebut, menambah suasana suram pada bangunan peninggalan itu. Selain itu, menurut bapak yang sudah dua kali menjabat ketua wisma tersebut, kepemilikan listrik dan air serta telepon secara pribadi atau khusus untuk masing-masing rumat tangga diurus sendiri oleh masing-masing penghuni, inipun atas inisiatif dari bapak yang juga lulusan IKIP ini. Kejadian ini dipicu oleh terlalu seringnya terjadi percekcokan antar penghuni apabila terjadi pembengkakan biaya dan saat terjadi putusnya aliran listrik karena melebihi daya listrik yang seharusnya.

**Bagi masyarakat sekitar Wisma, keberadaan penghuni di dalamnya merupakan komunitas yang tergolong eksklusif. Dari informasi yang diperoleh dari tukang becak yang biasa mangkal di sekitar Wisma, penghuni bangunan kuno itu jarang keluar untuk bergaul dengan manyarakat sekitar. Mungkin hanya kaum ibu-ibu yang bergaul dengan warga lain, itupun hanya pada saat arisan PKK. Hal ini lebih diperparah lagi dengan hubungan antar penghuni yang tidak mengenal antar satu dengan yang lain. Keadaan yang demikian dikarenakan kebanyakan yang tinggal di sana adalah anak-anak mereka. Sedangkan para dosen itu sendiri telah memiliki tempat tinggal di tempat lain.

Perbuatan mereka tersebut oleh pihak universitas sepertinya tidak ambil pusing. Mereka acuh pada keadaan yang demikian. Pewarisan tempat tinggal ini sebenarnya bisa dibenarkan oleh hukum, dengan cara mereka membeli bangunan yang mereka tempati dengan harga murah. Karena undang-undang perumahan memperbolehkan pegawai membeli rumah dinas yang berada diluar kompleks universitas. Seperti yang terjadi pada kasus di jalan Bogor, serta kompleks perumahan IKIP yang lain. Terjadi sengketa antara salah satu dosen fakultas MIPA dengan adik kandung dari salah satu dosen yang sudah meninggal dunia yang dulunya merupakan dosen yang bertempat tinggal di salah satu rumah di jalan Bogor tersebut. Kasus tersebut dimenangkan pihak adik. Memang seharusnya jatah tinggal tersebut habis pada saat dosen yang berhak sudah meninggal dan pasangan hidupnya pun juga sudah meninggal. Namun karena perumahan tersebut berada di luar komplek universitas, maka bisa dibeli.

Fenomena-fenomena di atas harus mendapat perhatian yang lebih dari pihak universitas. Karena jika hal ini hanya dianggap sebelah mata, aset ini akan hilang dari genggaman ……

:: Nur Ahita, dkk.

DEKONSTRUKSI KEEGOAN DAN KEAWAMAN PADA MAKNA KEHIDUPAN

Filed Under (Resensi) by redaktur on 09-01-2005

Adakah gunanya berfilsafat?” pertanyaan itu yang semula akan disodorkan kepada pembaca pada halaman v sebagai Pra-Meditasi. Sebelum kita berada pada pemikiran Karl Britton_dari penerjemah_pembaca diantarkan pada suatu kondisi pra meditasi. Yang tertangkap di sini adalah bahwasannya ketika kita membaca buku itu nantinya maka di situlah kita berada pada kondisi meditasi, merenungi, dan menata ulang apa yang telah ada melekat dalam pemikiran kita. Suatu pengantar yang ringan, yang mampu menjadi “warming up” bagi pembaca, menunjukkan betapa indahnya berfilasafat.

Buku yang memang terkategorikan filsafat ini mencoba memberikan sajian kajian atas makna kehidupan. Dan bila kita baca sepintas dari judul buku ini, kita temui kata-kata “dekonstruksi atas makna kehidupan”, maksud dari penulis buku ini yaitu Karl Britton mencoba untuk mengupas satu demi satu, sisi demi sisi atas kehidupan yang selama ini menjadi wacana dan pemikiran umum manusia dengan didekontruksi pada kontraposisi dari yang ada (umum) tersebut.

** “Apa makna kehidupan?” dan “Apa tujuan dan alasan seseorang untuk menjalani kehidupan?” menjadi dua pertanyaan yang awal akan coba dikupas di Bab I ( Bab. Dua Pertanyaan). Secara awam, manusia akan menjawabnya dengan memposisikan dari sudut dirinya sendiri, atau dari seorang pemula, sebagai latar belakang untuk meyakini filsafat sebagai metode terbaik. Menurut penulis, dalam melihat filsafat _menyalami kedalaman diri_maka perlu melihat alam semesta dan tidak hanya dari sudut pandang subyektifitas. Pertanyaan tentang makna kehidupan itu sendiri pun kurang dipertanyakan, sedangkan yang kerap muncul adalah pertanyaan tentang diri sendiri dari tiap individu. Pertanyaan kedua bisa terjawab bila diperluas dengan menanyakan tentang kehidupan yang lebih luas dahulu_alam semesta_ baru ditarik ke sudut individunya.

Berlanjut ke jawaban-jawaban otoritatif, terkait dengan teologi pada khususnya. Apa yang menjadi bagian bersifat principil lebih dikuatkan di bab II ini. Hal-hal yang telah diketahui manusia tentang sifat kekuasaan tunggal-Nya akan diperkuat dengan argumen logika dan inti ajaran agama secara umumnya. Namun tidak sepenuhnya juga pengetahuan umum manusia itu benar sepenuhnya. Opini dan falsafah umum diidentifikasikan pula dengan cara yang sama hingga nantinya ada dua sisi yang mengena.

Di lain bab, penulis mencoba mendalami anggapan yang menyatakan inti kehidupan yang dijalani bukan harus dicari dalam tujuan atau capaian-capaian praktis, tapi dalam mengetahui, memahami dan merenungkan kebenaran. Ada hal-hal yang dipertentangkan seperti keberadaan tataran praktis dan teoritis tidaklah sama dengan kerasionalan. Atau di lain hal adanya pohon pengetahuan bukanlah pula akan menjadi pohon kehidupan. Hakekat manusia yang selama ini dimunculkan tidaklah bisa berasal dari pikiran dan imaji tiap individu. Jadi arti dan kebenaran dapat diperoleh secara metafisis dan bukan dari teori atau arti yang dimunculkan tiap individu.

Menurut Aristoteles, kebaikan tertinggi adalah kesenangan. Melakukan sesuatu yang menyenangkan seringkali berarti melakukannya demi perbuatan itu sendiri. Untuk menentukan makna tersebut haruslah sesuatu yang dilakukan dan dinikmati demi dirinya sendiri. Hal-hal itulah yang pada akhirnya menguatkan pendapat Aristoteles di awal paragraf ini. Jawaban-jawaban informal yang dimaksudkan adalah jawaban awam dan umum yang terlontar dengan spontan dan jujur.

Saat melihat, menilai, dan mengetahui dari segi teoritikal serta ortodoks (sekali lagi) bukan berarti metode itu menjadi penyelesai sempurna, final, atau bahkan lebih baik dari metode lainnya. Prosedur ilmiah bukan satu-satunya yang harus ditempuh untuk menjawab pertanyaan teoritis alami.

Bab lain yang masih berisi pertanyaan dan jawaban tentang kehidupan adalah tentang diri individu dan dunia. Pertanyaan filosofis yang dari awal kerap dimulai dengan menarik dari subyektifitas mampu terjawab dengan cara mencoba menjelaskan hubungan logis antara banyak pernyataan dan pertanyaan yang berbeda-beda lalu disusun hingga dapat dilihat kesamaan dan perbedaan, dianalisa bagaimana hal tersebut diekspresikan dan diterapkan dalam konteksyang berbeda.

Sedari awal kita disuguhkan oleh berbagai kelompok pertanyaan dan jawaban. Di Bab VII, pembaca akan disuguhkan tentang pertanyaan-pertanyaan praktis, pertanyaan yang membutuhkan pembuktian untuk menguatkan apa yang kita miliki, berlawanan dengan teoritis di mana orang dapat tahu jawabnya tanpa harus ada praktek aktual. Berusaha untuk meragukan preposisi adalah masalah inti dalam pertanyaan-pertanyaan praktis.

Di dua bab akhir dalam buku ini pembaca diajak untuk memahami dan mencari makna dengan mengutik dunia dan Tuhan tidak hanya dari subyektifitas. Manusia dan agama bisa menjadikan setiapnya (manusia dan agama) berparameter dan berparadigma berbeda.

Secara keseluruhan buku ini dapat ditujukan bagi mereka yang masih awal dalam mengetahui filsafat. Namun tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang telah jauh dan dalam mengetahui filsafat karena sifat dekonstruktifnya. Bahasa yang digunakan juga mudah dipahami karena faktor penerjemah sehingga buku ini menjadi mudah diterima untuk dimengerti oleh pembaca. Kupasan dalam mengkaji kelumit demi kelumit makna kehidupan begitu fundamentalis sehingga ini mempermudah pembaca untuk mengikuti secara gradual hingga ke tahap akhir buku tersebut.

Identitas Buku

Judul : Philosophy and The Meaning of Life

Penulis : Karl Britton

Penerjemah : Inyiak Ridwan Muzyir

Penerbit : Cambridge University Press, 1971

Diterbitkan di

Indonesia oleh : Ar-Ruzz, 2002

Tebal buku : x + 280 halaman

Pemberitaan Sensitif Gender, Sumbangan Besar Mewujudkan Demokrasi

Filed Under (Esai) by redaktur on 09-01-2005

Revolusi teknologi ternyata tak banyak dimanfaatkan oleh pekerja media untuk membantu perempuan memperbaiki posisinya. Pencitraan perempuan di berbagai media massa di seluruh dunia masih lebih banyak bersifat stereotip sehingga tidak bisa dikatakan mewakili sesuatu yang lebih benar mengenai perempuan. Sampai Konferensi Dunia IV mengenai perempuan dan pembangunan di Beijing (1995), media dan jaringan alternatif khusus untuk perempuan semakin berkembang dan dimanfaatkan secara efektif oleh organisasi mahasiswa dan kelompok-kelompok perempuan guna memperbaiki kesadaran sosial dan politik di antara perempuan dan anggota masyarakat Dengan demikian, media seharusnya dapat digunakan untuk mentransformasi pencitraan mengenai perempuan.

Perjuangan Perombakan Kultur

Upaya menghapuskan kekerasan dalam pemberitaan surat kabar, bukan hal yang mudah karena menyangkut perombakan kultur dan kerangka pikir wartawan dan editor. Apalagi bila bekerja pada wilayah mind set yang melahirkan suatu sikap tertentu, ideologi tertentu yang dipelajari seorang manusia sejak ia bisa berpikir, ditambah oleh pola asuh yang bias gender. Dengan demikian pemberitaan wacana sensitifitas gender saja tidak akan mampu membuat wartawan segera mamiliki kesadaran yang cukup pada inequality yang dialami perempuan. Kerja dalam tim seperti media cetak, membutuhkan toleransi dan penghargaan pada proses. Kemarahan dan ketidaktoleran hanya akan menjadi conter productive dan tidak akan membuat perubahan yang berarti.

Perjuangan untuk mencapai keadilan gender melalui pemberitaan dalam media massa masih membutuhkan waktu teramat panjang. Kekerasan terhadap perempuan dalam media massa tidak bisa dilepaskan dari posisi perempuan dalam masyarakat, karena struktur dan pemberitaan media massa sebenarnya adalah cermin situasi masyarakat itu sendiri. Dalam masyarakat terlanjur meyakini notion palsu yang mengatakan bahwa secara kodrati perempuan kurang pandai dan secara fisik lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki. Karena itu, sebagai besar masyarakat masih percaya pada pembagian kerja secara seksual yang mensubordinasikan perempuan, sektor “domestik” yang dikatakan sebagai sektor statis clan consumtif sebagai milik perempuan. Sedangkan sektor “publik” yang dicirikan sebagai sektor dinamis dan memiliki sumber kekuasaan pada perbagai sektor kehidupan yang mengendalikan perubahan sosial sebagai milik laki-laki.

Sejumlah stereotip lantas menempel pada perempuan dan laki-laki berdasarkan peran jenis kelamin itu. Ini diperkuat oleh kekuasaan negara UU No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang secara eksplisit menetapkan peran-laki-laki dan perempuan, maka dengan mudah ideologi yang diskriminatif ini tersosialisasikan, terinternalisasikan melalui pendidikan di semua lini, keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Wartawan dan struktur keredaksian juga menyerap nilai-nilai tersebut sehingga mudah tergelincir untuk melakukan kekerasan berganda terhadap perempuan korban kekerasan melalui bahasa dan konsep yang dipakai, atau sudut pandang berita yang dipilih, pemilihan gagasan dan keseluruhan gaya pemberitaan.

Perspektif Perempuan dalam Media Massa

Seluruh persoalan ini di dalam media massa juga tidak terlepas dari struktur modal yang kapitalistik. Industri media massa akan menempatkan berita-berita yang bersifat maskulin itu sebagai sesuatu yang utama, karena dianggap “menjual”. Ciri kapitalistik juga nampak dari dikalahkannya pemuatan berita demi iklan, meski iklan dijadikan alasan utama suatu media massa dapat bertahan.

Penulisan berita dan artikel atau tulisan apapun (juga gambar) yang berperspektif perempuan bukan tidak mengandung kontradiksi. Bahkan mengandung resiko dituduh mengekalkan mitos masochisme perempuan, rasisme, narcisis, memalukan, buruk, efensif, dan menentang konsepsi tentang apa dan bagaimana seharusnya.

Suara perempuan adalah suara yang terbisukan. Sistem politik yang represif telah mengawasi perempuan secara ketat, mengontrol secara dominan, tidak memungkinkan cara berpikir lain daripada yang dikehendaki penguasa, menyudutkan dan menyempitkan dan akhirnya menundukkan. Ini juga dilakukan melalui bahasa, karena membicarakan media massa media yang diekspresikan melalui bahasa tulis dan lisan. Sebagai wacana baru (newspeak), bahasa bukanlah sekedar alat komunikasi. Ia merupakan kegiatan kegiatan sosial yang terstruktur dan terikat pada keadaan sosial tertentu.

Posisi Media Massa

Namun perubahan semacam ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada semacam cara pandang, budaya berpikir yang harus dirombak dalam struktur besar keredaksian, serta pembongkaran sikap dan cara pandang personal di kalangan wartawannya. Dalam sebuah diskusi Lembaga Pers Mahasiswa, pada umumnya pekerja media memiliki kesadaran memadai mengenai masalah-masalah HAM. Namun masih perlu perbaikan yang signifikan dalam kognisi, maupun afeksi. Jurnalis harus memanfaatkan semaksimal mungkin informasi, komunikasi, dan pendidikan untuk memajukan perdamaian, HAM, dan demokrasi.

Tetapi apa keterkaitan antar demokrasi dan perempuan? Sejarah bisa menjadi titik tempuh untuk memaparkan pergerakan posisi perempuan mulai dari pemegang peranan yang kuat dalam komunitas sampai terjadinya subordinnasi terhadap mereka. Sejarah kemudian memang memperlihatkan bahwa sejarah perempuan lebih banyak dilekatkan pada subordinasi. Padahal inti demokrasi adalah kesetaraan hak dan kewjiban, dan keadilan yang didasarkan kesetaraan tadi.

Jadi, sehebat apapun posisi seorang pemimpin media berbicara soal demokrasi, tetapi ia meragukan atau bahkan menisbikan persoalan kesetaraan dalam hubungan perempuan-laki-laki, maka ia bukanlah demokrat sejati. Seorang pemimpin di dalam media yang masih mengartikan feminisme sebagai pembalikan perempuan dan laki-laki atau bahkan menuduh feminisme dan gerakan kesetaraan gender sebagai gerakan untuk menindas laki-laki, maka secara tidak sadar dia telah memposisikan dirinya sebagai penindas.

Mengapa? Karena kesadaran ditindas hanya ada pada golongan penindas. Pada banyak kasus, orang tertindas malah tidak merasa ditindas karena manipulasi berbagai nilai yang dikukuhi dalam kehidupan masyarakat atau malah melakukan adjustment terhadap penindasan itu dan kemudian mereplikasikannya kepada pihak lain yang lemah. Karena itulah kesadaran perempuan tentang masalah penindasan ini harus dibongkar. Hanya dengan itu maka seluruh gerakan kesetaraan bisa mencapai tujuannya. Dalam hal ini media sebagai kekuatan keempat (the fourth estate) berperan sangat besar untuk pergerakan permpuan, namun sebaliknya media bisa digunakan untuk menahan laju pergerakan perempuan, atau bahkan memundurkan kembali. Inilah yang disebut split personaliy dari media: ia bisa menjadi agen pembaharu, tetapi sekaligus menginginkan kemapanan sehingga enggan membongkar situasi status-quo, karena merasa hal-hal itu tidak populer, yang akhirnya mengganggu bisnis media.

Namun bagaimanapun harus diingat, media main steram berurusan dengan pemodal yang lebih mempedulikan kenginan pasar ketimbang perbaikan posisi dan kesejahteraan perempuan dan kelompok masyarakat yang dilemahkan lainnnya. Meski demikian, ketidakpedulian media main stream ini bukan jalan buntu yang tidak bisa ditembus. Selalu ada jalan dengan kecerdasan membungkus isu, sehingga akhirnya secara perlahan tetapi pasti, isu-isu kesetaraan dan keadilan gender menjadi isu yang kian membesar dan penting dan harus diterapkan dalam setiap persoalan.


Akhmad Junaedi Azhar

*Masih membiasakan dengan sebiasa-biasanya. Masih nongkrong namanya di bidang tiga Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP_UM) yang ngurusi logistik, atau malah diurusi sama logistik. Hidup logis…tik. mahasiswa yang kebetulan pernah concern masalah gender, ingin memvisualisasikan dalam pemberitaan media. Kok sulit yach.

Majalah Siar Buletin Siar

MySIAR Online


        Dapatkan blog dengan alamat:
        http://siar.endonesa.net/namaanda/
        *khusus bagi anggota dan alumnus UKMP*

Daftar Sekarang

Diskusi Kepenulisan (untuk UMUM)