SEBUAH ASAL BAGI USUL PAMERAN KARYA UKMP

Oleh : Jayaning S.A.*

Aku menulis bukan karena kedudukanku sebagai ketua. Aku menulis ini, murni karena aku ingin orang tahu apa dan seperti apa sebenarnya pameran karya.

Aku tak tahu kapan tepatnya pameran karya digagas. Hanya saja, ada yang mengatakan bahwa gagasan ini muncul pertama kali ketika ada keprihatinan di kalangan masyarakat UKMP kenapa UKMP tak terlihat eksis di kandangnya sendiri (maksudnya di UM). Ada yang menambahkan bahwa karena dalam perjalanannnya, UKMP pernah mengalami masa vakum berkepanjangan sehingga diperlukan suatu tindakan nekat yang entah bagaimanapun caranya harus terlaksana dan terlahirlah gagasan tentang pameran karya. Yang kemudian oleh beberapa pencetusnya dilanjutkan dengan perdagangan buku-buku indie (buku yang dicetak sendiri dengan printer, dan di jual sendiri hand-to-hand).

Seingat saya ceritanya begitu. Tapi sekali lagi, cerita ini didengar dari segelintir orang yang juga tak luput dari unsur lupa karena begitu lamanya perjalanan waktu. Jadi cerita ini tentu sangat bisa diklarifikasi kembali oleh pihak-pihak yang merasa lebih banyak tahu.

Tahun 2006 dulu, acara terbesar yang ada adalah bazaar buku dari berbagai penerbit plus toko buku dalam dan luar kota Malang. Pameran karya termasuk salah satu acara pendukungnya.

Waktu itu, lokasi pameran karya adalah di joglo perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang. Di tengah-tengah joglo digelar karpet dengan sketsel yang dipinjam dari fakultas sastra di sebelah utara dan selatan karpet. Dua sketsel lagi dipasang di bagian barat dan timur, ditempeli karya-karya anggota UKMP yang dimuat di media massa.

Pada tahun itu juga diperkenalkan istilah One Person One Book dan tradisi membentuk beberapa kelompok dari peserta diklat dimana masing-masing kelompok diwajibkan untuk membuat satu buku untuk dipajang saat pameran karya berlangsung. Tak ada ketentuan harus fiksi, non-fiksi, atau apapun.

Seingatku, saat itu tiap kelompok terdiri atas minimal 3 orang dan maksimal 5 orang. Tiap kelompok diwajibkan menyerahkan naskahnya pada panitia pameran karya maksimal H-berapa gitu.

Aku lupa apakah ada ancaman “sertifikat tidak diberikan kalau tidak menyerahkan karya” atau tidak, yang jelas aku menyambut hangat syarat itu. aku yang sebelumnya tak pernah berani tulisanku dibaca oleh orang lain menyerahkan puisi-puisiku dengan satu pikiran penguat “ini hanya syarat dan tak akan ada yang mau membaca tulisanmu”. Dan syarat itu terpenuhilah.

Semua hasil karya anggota yang dipajang serba sederhana tahun itu. Tipis-tipis, dengan layout sederhana, cover diprint dengan kertas putih biasa yang ditempelkan di kertas tebal entah apa namanya aku lupa, lalu direkatkan dengan lem rajawali.

Aku masih ingat, hampir semua buku berukuran seperempat kertas A4 waktu itu. Mungkin karena naskahnya terlalu sedikit. Mungkin.

Tahun kedua,tahun 2007 lalu, pameran karya diadakan pada tahun dimana ketua UKMP menghilang sejak pertengahan tahun kepengurusan. Lagi-lagi bulan November.

Konsep awal dari acara ini sama dengan tahun sebelumnya, bazar buku dengan pameran karya sebagai salah satu acara yang diunggulkan. Berjalan beberapa waktu sampai kemudian muncul kembali perdebatan tentang esensi dari bazaar buku. Berbagai argumen muncul, diadu, ditimbangkan, dan dikeluarkanlah keputusan bahwa bazaar buku sebagai acara utama dibatalkan, diganti dengan pameran karya sebagai acara utama dengan beberapa acara pendukung.

Ada apakah gerangan?

Waktu itu, salah satu senior mengatakan : “Semua terserah pada teman-teman pengurus, karena fungsi kami kan hanya memberi masukan.” Kemudian, ia tambahkan, “Menurutku, bazar itu sah-sah saja. toh itu juga kegiatan yang sangat positif untuk ajang latihan teman-teman pengurus. Tapi sekali lagi, kita kan UKM penulis. Saya hanya titip pesan supaya pameran karya dimaksimalkan.”

Dan akhirnya, alasan bagi pembatalan bazar buku adalah mengingat SDM UKMP yang terbatas dan yang paling esensial dari seluruh rangkaian bazar buku tahun terdahulu adalah mendatangkan banyak pengunjung supaya mereka melihat-lihat karya anggota UKMP, tapi ternyata perhatian pengunjung terserap pada buku-buku elegan bazar dan bukannya karya anggota UKMP, maka diputuskan bahwa bazar buku tidak diadakan (sebenarnya supaya tidak menjadi tandingan). Dan seluruh SDM yang ada benar-benar-benar dimurnikan untuk proses penyusunan buku karya anggota.

Palu diketok. Bazar buku tahun 2007 ditiadakan.

Tahun 2008, bazar buku masih tetap ditiadakan. Pameran karya murni yang kedua ini diadakan selama 2 hari di perpustakaan kota Malang pada hari Sabtu dan Minggu 22-23 November. Dilanjutkan dengan pameran di perpustakaan UM selama 4 hari, sejak hari Senin sampai Kamis, dan acara Pelatihan Menulis Artikel dan Laporan Penelitian.

Ya, banyak perubahan sepanjang perjalanan pameran karya tahun ini.

Awalnya, pameran akan diadakan di perpustakaan UM selama 5 hari, terhitung hari Senin sampai dengan Jumat. Proposal sudah disebar. Dan atas pertimbangan salah satu sponsor –malahan, mungkin karena mereka paham bagaimana seretnya keuangan mahasiswa- supaya bisa menggaet lebih banyak sponsor, acara pameran karya diselenggarakan di perpustakaan kota Malang. alasannya adalah perpustakaan kota adalah tempat yang dijangkau oleh semua kalangan tanpa batasan. Dan dengan pertimbangan kuantitas partisipan lomba yang diadakan untuk SMA, lomba baca puisi diadakan hari libur yaitu hari Minggu. Pembukaannya dirancang untuk digelar hari Sabtu, dengan pertimbangan bahwa acara yang akan digelar hari itu adalah launching buku antologi cerpen UKMP. Sasaran pemasarannya yang tak hanya masyarakat UM membuat panitia berfikir untuk memperkenalkannya secara perdana di perpustakaan kota.

Sekali lagi perubahan terjadi. Buku antologi cerpen UKMP tak mungkin sanggup diluncurkan bertepatan dengan jadwal launchingnya dalam rangkaian pameran karya, karena pertimbangan ketiadaan dana dan sebuah fakta bahwa buku ini memerlukan testimoni-testimoni dari “para tokoh” untuk mempengaruhi animo masyarakat membeli buku ini. Dan butuh waktu yang tidak singkat untuk mendapatkan ini.

Akhirnya, jadwal launching buku hari Sabtu di perpustakaan kota Malang dan hari Rabu di perpustakaan pusat UM dicancel. Satu alternatif untuk menutup ketiadaan acara hari Sabtu muncul : bedah buku “Berani Karena Goblok” tulisan Mas Yudhista Aditya Prastowo yang pernah mengenyam pengalaman “dijual secara indie”. Karena pameran buku ini adalah pameran buku-buku indie, yang dicetak dalam jumlah terbatas sesuai dengan keadaan dana.

Dan untuk mengisi acara hari Rabu yang kosong, secara tiba-tiba ketua pelaksana dan kordinator acara mengusulkan pengadaan parade baca puisi dari anggota UKMP. Salut untuk usul brilian ini.

Sejujurnya, aku orang yang turut dan sering terbawa arus. Bahkan dengan posisi sebagai ketua umum-pun, aku tak begitu paham mengapa orang-orang yang lebih banyak pengalaman di UKMP yang menjadi anak buahku sekarang ini begitu memperjuangkan acara pameran karya. Aku hanya bisa tengadah, memandang ke langit, dan bergumam, “Begitu menyedihkannya seorang ketua yang ikut saja apa kata anak buahnya, tanpa benar-benar paham mengapa ia mengikutinya”.

Suatu ketika, di hari yang keberapa pameran karya aku lupa, ada seorang anggota baru yang bertanya padaku “Apa sih mbak pentingnya pameran karya?”. Aku tertegun, diam. Kalau dulu sebelum pameran karya aku selalu bilang pada anggota-anggota baru bahwa “tak semua orang bisa memamerkan karyanya di perpustakaan kota, maka jangan pernah mau membuang kesempatan ini”, sekarang aku dilemparkan pada esensi paling dasar yaitu mengapa harus bersusah payah untuk bisa di pajang di perpustakaan kota.

Ya kenapa ya?

Aku sempat bingung, dan bersikap seolah-seolah sudah tahu jawabannya tapi kesulitan mengungkapkan. Padahal aslinya, aku juga tak mengerti jawabannya. Dalam kondisi kepepet tapi harus bisa meyakinkan orang lain -hiks..hiks..hiks..aku harus meyakinkan dia supaya dia mau berjuang untuk mewujudkan acara ini tahun depan, melaksanakan tanggung jawab ketua, hiks..- kucomot satu fakta psikologi yang bernama menumbuhkan keberanian, dengan contohnya adalah diriku sendiriku. Benar-benar menyedihkan.

Bunyi ceramahku adalah : “Misalnya begini, melangkah itu setapak demi setapak kan?”

Dia jawab ya.

“Pameran karya itu sebenarnya bermisi untuk menumbuhkan keberanian lho. Misalnya gini, ini berdasarkan pengalamanku sendiri lho ya. Ketika kamu belum pernah menulis atau tulisanmu itu belum pernah di baca orang lain, pastinya ada rasa ragu apakah tulisanmu layak dibaca oleh orang lain. Ragu, takut, dan yang sejenis itulah. Dan ketika tulisanmu itu dipajang di depan umum, kemudian dibaca orang, apa yang kamu rasakan?”, tambahku.

Dia jawab seneng.

“Kalau sudah seneng, apa yang akan kamu lakukan? Akan besar kemungkinan kamu akan lebih termotivasi untuk menulis. Bayangan burukmu bahwa orang-orang akan mencemooh tulisanmu akan hilang karena toh kalau jelek pastinya kita tanggung bersama-sama, dan kemudian kamu akan termotivasi untuk lebih. Mungkin dengan mengirimkan karyamu ke media massa atau ikut lomba-lomba. Nggak peduli masuk media atau tidak, menang atau tidak. Nggak semua orang lho berani menghadapi penolakan. Padahal penolakan adalah keberhasilan yang sedikit tertunda.”

Dia manggut-manggut. Semoga saja provokasiku berhasil.

Aku jadi ingat cerita salah satu fotografer Tempo yang kebetulan mampir dan sempat ngobrol lama denganku. Dokumentasi karya kita, entah yang dimuat di media massa atau yang diterbitkan secara indie, akan bisa jadi lampiran curiculum vitae kita ketika melamar pekerjaan di bidang kepenulisan. Dan nilainya tidak sedikit jika dibandingkan dengan orang-orang yang lulusan sastra cumlaude tapi tak punya pengalaman memadai.

Ha..ha..ha.. Sedikit lagi pamahamanku bertambah tentang fungsi pameran karya. Investasi curiculum vitae, kalau-kalau aku benar-benar ingin terlibat untuk bekerja di media. Bukan hanya jawaban ala kadarnya “untuk tinggalan anak cucu kalau leluhurnya pernah begini”, tapi benar-benar tampak manfaat riil yang bisa dipetik oleh penanamnya sendiri.

Ya, seiring berjalannya waktu dan usahaku untuk memahami, akhirnya Allah bersedia menurunkan salah satu anugerah-Nya yang paling berharga yaitu kepahamanku dan kepemilikan dasar atas apa yang sedang kulakukan dan kuperjuangkan.

Ya, seiring berjalannya waktu. Pemahaman itu tak muncul hanya dalam hitungan bulan, namun tahun.

Salam sayang untuk semua oknum UKMP yang mau bersabar memberikan waktu padaku untuk belajar memahami.

Malang, 1 Desember 2008

UKMP, jam 02.05 dini hari

No Comments

Leave a reply

Name *

Mail *

Website