Ormawa: Antara Idealisme dan Kepentingan
Dalam melakukan sebuah perilaku perserikatan, diperlukan adanya sebuah penyatuan idelisme; baik dari segi sistem maupun tujuan. Ketika kita berbicara “perserikatan mahasiswa”-yang kemudian saya menyebutnya sebagai komunitas yang tidak jauh beda dengan organisasi mahasiswa (ormawa)-berarti kita menilik siapa-siapa pihak yang berperan (baca: dilibatkan) di dalamnya.
Pada awal tahun 1999 aktivitas mahasiswa di hampir seluruh perguruan tinggi mulai menunjukkan sikap representatifnya sebagai agent of change, yang telah menciptakan sebuah era baru: Era Reformasi. Jika kita mengatakan mereka (hingga saat ini) dikatakan sebagai pihak yang hanya pro status quo, agaknya kita semua harus melihat pada diri kita, apakah kita saat ini (masih) memegang maksud dari aksi mahasiswa dalam reformasi? Tidak. Kita bahkan lupa apa yang telah terjadi dalam reformasi, dan bahkan tidak tahu apa yang harus direformasi. Apakah tujuan? Birokasi? Jaringan? Atau teman?
Kepentingan atau Idealisme?
Apakah mahasiswa saat ini lupa dengan hikmah reformasi? Mereka ingat, tetapi beberapa dari mereka hanya sangat “mengerti” sehingga mereka merubah idealisme mereka menjadi kepentingan.
Ketika berbicara kepentingan, maka idealisme tersebut menjadi terkesampingkan. Yang ada kemudian adalah tujuan pribadi dan golongan; dengan kata lain, idealisme mereka sebagai agent of change luntur.
Kita bisa melihat berbagai contoh dari tingkat mahasiswa (civitas akademika) hingga mereka orang-orang birokat di kursi dewan. Sekalipun sejatinya mereka adalah wakil rakyat, tetapi dengan adanya kepentingan, mereka bisa dengan kejinya melakukan korupsi, dan penyelewengan kebijakan-yang berpihak kepada golongan mereka sendiri.
Agaknya kebobrokan “senior” ini telah diturunkan dengan sempurna kepada para agen-agen perubahan di civitas akademika: mahasiswa. Menoleh dari fakta terbaru, bagaimana para pelaku birolrasi telah belajar memanfaatkan jabatan (tanggung jawabnya) demi kepentingan golongan. Hal ini terjadi di hampir seluruh hasil Pemilu Raya Ormawa UM 2008.
Ormawa di kampus kita, telah kehilangan idealismenya. Ormawa kita lupa mana yang seharusnya diperjuangkan, dan mana yang seharunya dihilangkan.
Revolusi
Ketika kita berbicara pro status quo, hal ini benar bahwa kita saat ini masih belum menunjukkan sebuah hasil yang ril dari Era Reformasi yang telah kita lahirkan satu dasa warsa silam. Ketika kita analogikan reformasi sebagai seorang anak kecil, maka hal ini benar bahwa di saat usia saat ini, kita masih dalam tahap perkembangan (yang bahkan belum tahap pencarian diri).
Namun, menganalogikan sebuah aksi dengan manusia adalah hal yang kurang tepat-lebih tepatnya adalah sebuah sistem. Sebagai contohnya negara kita yang telah merdeka 63 tahun yang lalu, saat ini dia tinggal menunggu ajalnya saja (jika memang sistemnya yang salah). Dan hal itu memang benar, Indonesia kemungkinan tidak akan berumur panjang sebagai NKRI jika sistem yang harus dilakukan adalah tetap seperti saat ini.
Hal ini pula yang agaknya juga mulai menjadi budaya-walau saya sebenarnya tidak mau menyebutnya sebagai budaya-di aktivitas mahasiswa di kampus kita. Kita telah “belajar” dari bagaimana kesalahan sistem yang diaplikasikan di negeri yang sedang sakit ini. Jika memang benar kita demikian, kita akan melihat bagaimana pergerakan mahasiswa di kampus kita akan mati muda dan kita pun (yang menjadi bagiannya) belum sempat merasakan atmosfir demokrasi yang sesungguhnya.
Bila hal demikian rupanya, kita tidak bisa terus bersikap sebagai pro status quo. Hal ini benar, jika kita lebih kritis pada permasalahannya, keadaan yang terjadi saat ini adalah bukan reformasi sebagaimana yang telah dilahirkan oleh para rekan-rekan kita pada dasa warsa yang lalu.
Apa yang kita hadapi saat ini adalah representasi dari Orde baru fase kedua. Bahkan di tingkat ormawa kampus kita, telah lahir dan bisa tumbuh subur para calon “soeharto-soeharto” baru yang menguasai (baca: mengungkung) hampir seluruh aktivitas mahasiswa.
Dengan demikian, yang kita lakukan adalah apakah kita sebagai pihak yang waras, yang kita lakukan adalah pro status quo yang salah ataukah kita melakukan “reformasi” fase kedua pula, yang kita sebut dengan revolusi di kampus kita? Ataukah kita menikamti kungkungan ini? Atau bahkan kita siap menjadi para pelopor untuk melakukan aksi layaknya “rastorasi Meiji”? Anda bisa memutuskan, yang mana tentu kita masih tetap membutuhkan kebersamaan untuk berubah-menjadi lebih baik-dalam melakukan aksi ini.
Sebagai penegas dalam aksi kita, saat ini di manapun teman-teman sekalian berada bahwa gerbong revolusi tetap akan berjalan. Pertanyaannya, di manakah posisi Anda saat ini?
Sueb
Jurusan Sastra Inggris 2007




2 Comments
Gayatri
Juni 17th, 2009 at 13:16
Hakikat idealisme adalah sebuah pemikiran yang mendalam terhadap kondisi yang berada disekitar kehidupan ini, alam semesta, serta manusianya sendiri. Idealisme seseorang akan menancap kuat bagai karang yang tak kan pernah roboh diterjang badai sebesar apapun adalah idealisme yang dihasilkan dari proses pemecahan permasalahan yang berhubungan dengan ketiga hal di atas. Ketika belum mampu memecahkan ketiga permasalahan dengan jalan yang benar dan menemukan jawaban yang tepat maka idealisme dipertanyakan.
Tidak mengherankan jika tidak sedikit orang-orang yang menganggap dirinya idealis kepincut dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Pertanyaan besar, Sudahkah dia memiliki dasar idealis yang benar?
Sebaiknya sebagai Agent Of Change para mahasiswa banyak belajar dari kesalahan yang dilakukan oleh para pemimpin orde baru, tidak menyalahkan person yang memimpin, tapi mencoba menganalisa akar permasalahan yang muncul pada massa tersebut.
Jika ormawa di dalam kampus demikian, saya sepakat dengan adanya revolusi besar-besaran dengan sistem yang ada. Siapa yang harus melakukan? Mahasiswa sendiri sebagai Agent of Change.
Caranya adalah memahamkan mahasiswa pentingnya mengedepankan idealisme yang benar yang akan mengenyampingkan segala kepentingan. Demi kehidupan organisasi yang lebih baik. Semangat terus berjuang. FIP, 2006
yantho
September 29th, 2009 at 8:21
kira–kira apa dan bagaimana ramalan anda terhadap NKRI, apakah harus tetap ada atau harus hancur berkeping-keping., jika dikorelasikan dengan sistem seperti saat ini?
Leave a reply