JALAN YANG TERLALU BEBAS UNTUK MENUJU KEBEBASAN
Begitu banyak selebritis, penyanyi, grup band, dan 80.000 lebih massa yang berkumpul di lapangan Rampal pada 4 Agustus 2008, dari pukul 10.00 hingga 01.30 dini hari. Acara yang bertemakan “free your voice” ini menunjukkan semangat masing-masing individu untuk menyuarakan suara hatinya dengan bebas. Segala bentuk konsep performance masing-masing penyanyi dan grup band ditampilkan menjadi suguhan yang begitu menarik. Walaupun tidak semuanya memberikan satu konsep penampilan yang atraktif, cuma sekedar menghibur. Manggung, bernyanyi, dan memuat penonton puas. Sebenarnya tidak harus seperti itu. Untuk sebuah Soundrenaline terdapat satu konsep yang diusung untuk menyampaikan suatu misi, meski masih kental dengan unsur promosi dan meningkatkan image brand. Itu bisa menjadi satu pandangan yang lain.
Menyampaikan satu suara dengan mengajak untuk berbuat suatu yang positif. Mengajak dengan melalui media hiburan. Terlalu beresiko dengan segala kondisi yang ada. Kecenderungan sikap masyarakat yang apatis dengan apa yang terjadi menjadi batu ganjalan tersendiri. Seperti yang disuarakan oleh Nidji pada penampilannya kemarin. Mengusung konsep melawan pembajakan, bersama 15 Nidjiholic yang masing-masing membawa bendera yang tertera nama band-band Indonesia. Tindakan ini muncul setelah terjadi kegundahan dari masing-masing musisi termasuk Nidji.
Saat karya-karya mereka digandakan secara ilegal. Tidak ada unsur apresiasi dari kalangan pendengar dari karya-karya itu, yang bisa dilakukan hanya bertepuk tangan, berjoget, berdendang, dan berkomentar “Bagus..!” atau “Jelek!”.
“Ini adalah karya yang sulit untuk dibuat, membutuhkan proses yang panjang dan melelahkan. Tidak layaklah karya ini dibajak” komentar Giring pada konfrensi pers.
Hal itu ditunjukkan Nidji yang melibatkan 30 Nidjiholic melalui pelatiahan pembuatan album. Disini ditunjukkan betapa sulitnya proses itu. Mulai dari menciptakan lagu, mengaransemen, rekaman, hingga membuat cover CD. Nidji memulainya dengan 1 hal kecil tersebut karena ini membutuhkan jalan yang sangat panjang untuk membangunkan masyarakat yang terlena akan kondisi buruknya saat ini.
Karena tidak cuma dengan tindakan Nidji saja perubahan itu akan terjadi. Â Kita memang hidup di negara yang bebas tetapi hal itu bukan berarti bebas melakukan berbagai tindakan apa saja. Kalimat ini memang sudah terkesan basi, tetapi bila direnungkan berulang kali tentunya akan semakin dalam maknanya. Seperti orang lain yang mengambil sesuatu yang kita dapatkan dengan susah payah dengan seenaknya, setelah itu terjadi barulah kita tau bagaimana rasanya. Terlihat seperti anak kecil yang baru pertama melihat api dan memegangnya, tau rasanya sakit tidak akan mau melakukannya lagi. Apa itu yang harus terjadi?
Di cambuk dulu baru berjalan. Sama halnya yang di suarakan oleh J-rock. Tentang pencurian lagu daerah oleh negara tetangga. Sesuatu yang kecil diabaikkan, dan secara spontan amarah meledak.
Begitu banyak makna yang terkandung pada kisah perjalanan Soundrenaline dari pukul 10.00 hingga 01.30 dini hari. Tidak hanya tentang pasangan yang bercengkrama sambil mendengarkan lagu mellow D’massive. Tidak cuma itu! Tidak hanya menikamati dan bersenang-senang atas keasikan hiburan permainan yang tersedia. Tidak cuma itu! Tidak hanya membeli dan berbelanja suvenir di stan-stan penjualan. Tidak Cuma itu!
Kita hanya melihatnya dari bagian-bagian kecilnya saja. Dan mengabaikkan garis besar makna yang ada di dalamnya. Jangan cuma termakan sistem marketing dari Soundrenaline saja tetapi manfaatkan momen itu untuk bercermin inilah diri kita.




No Comments
Leave a reply