<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Siar.UKMP</title>
	<atom:link href="http://siar.endonesa.net/index.php/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://siar.endonesa.net</link>
	<description>Berpikir Merdeka, Menyajikan Wacana</description>
	<pubDate>Sat, 02 May 2009 00:59:41 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Ormawa: Antara Idealisme dan Kepentingan</title>
		<link>http://siar.endonesa.net/index.php/ormawa-antara-idealisme-dan-kepentingan.htm</link>
		<comments>http://siar.endonesa.net/index.php/ormawa-antara-idealisme-dan-kepentingan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 15:19:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://siar.endonesa.net/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Dalam melakukan sebuah perilaku perserikatan, diperlukan adanya sebuah penyatuan idelisme; baik dari segi sistem maupun tujuan. Ketika kita berbicara &#8220;perserikatan mahasiswa&#8221;-yang kemudian saya menyebutnya sebagai komunitas yang tidak jauh beda dengan organisasi mahasiswa (ormawa)-berarti kita menilik siapa-siapa pihak yang berperan (baca: dilibatkan) di dalamnya.
Pada awal tahun 1999 aktivitas mahasiswa di hampir seluruh perguruan tinggi mulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam melakukan sebuah perilaku perserikatan, diperlukan adanya sebuah penyatuan idelisme; baik dari segi sistem maupun tujuan. Ketika kita berbicara &#8220;perserikatan mahasiswa&#8221;-yang kemudian saya menyebutnya sebagai komunitas yang tidak jauh beda dengan organisasi mahasiswa (ormawa)-berarti kita menilik siapa-siapa pihak yang berperan (baca: dilibatkan) di dalamnya.</p>
<p>Pada awal tahun 1999 aktivitas mahasiswa di hampir seluruh perguruan tinggi mulai menunjukkan sikap representatifnya sebagai <em>agent of change</em>, yang telah menciptakan sebuah era baru: Era Reformasi. Jika kita mengatakan mereka (hingga saat ini) dikatakan sebagai pihak yang hanya pro <em>status quo</em>, agaknya kita semua harus melihat pada diri kita, apakah kita saat ini (masih) memegang maksud dari aksi mahasiswa dalam reformasi? Tidak. Kita bahkan lupa apa yang telah terjadi dalam reformasi, dan bahkan tidak tahu apa yang harus direformasi. Apakah tujuan? Birokasi? Jaringan? Atau teman?<span id="more-7"></span></p>
<p><strong>Kepentingan atau Idealisme?</strong></p>
<p>Apakah mahasiswa saat ini lupa dengan hikmah reformasi? Mereka ingat, tetapi beberapa dari mereka hanya sangat &#8220;mengerti&#8221; sehingga mereka merubah idealisme mereka menjadi kepentingan.</p>
<p>Ketika berbicara kepentingan, maka idealisme tersebut menjadi terkesampingkan. Yang ada kemudian adalah tujuan pribadi dan golongan; dengan kata lain, idealisme mereka sebagai <em>agent of change </em>luntur.</p>
<p>Kita bisa melihat berbagai contoh dari tingkat mahasiswa (civitas akademika) hingga mereka orang-orang birokat di kursi dewan. Sekalipun sejatinya mereka adalah wakil rakyat, tetapi dengan adanya kepentingan, mereka bisa dengan kejinya melakukan korupsi, dan penyelewengan kebijakan-yang berpihak kepada golongan mereka sendiri.</p>
<p>Agaknya kebobrokan &#8220;senior&#8221; ini telah diturunkan dengan sempurna kepada para agen-agen perubahan di civitas akademika: mahasiswa. Menoleh dari fakta terbaru, bagaimana para pelaku birolrasi telah belajar memanfaatkan jabatan (tanggung jawabnya) demi kepentingan golongan. Hal ini terjadi di hampir seluruh hasil Pemilu Raya Ormawa UM 2008.</p>
<p>Ormawa di kampus kita, telah kehilangan idealismenya. Ormawa kita lupa mana yang seharusnya diperjuangkan, dan mana yang seharunya dihilangkan.</p>
<p><strong>Revolusi</strong></p>
<p>Ketika kita berbicara pro <em>status quo</em>, hal ini benar bahwa kita saat ini masih belum menunjukkan sebuah hasil yang ril dari Era Reformasi yang telah kita lahirkan satu dasa warsa silam. Ketika kita analogikan reformasi sebagai seorang anak kecil, maka hal ini benar bahwa di saat usia saat ini, kita masih dalam tahap perkembangan (yang bahkan belum tahap pencarian diri).</p>
<p>Namun, menganalogikan sebuah aksi dengan manusia adalah hal yang kurang tepat-lebih tepatnya adalah sebuah sistem. Sebagai contohnya negara kita yang telah merdeka 63 tahun yang lalu, saat ini <em>dia </em>tinggal menunggu ajalnya saja (jika memang sistemnya yang salah). Dan hal itu memang benar, Indonesia kemungkinan tidak akan berumur panjang sebagai NKRI jika sistem yang harus dilakukan adalah tetap seperti saat ini.</p>
<p>Hal ini pula yang agaknya juga mulai menjadi budaya-walau saya sebenarnya tidak mau menyebutnya sebagai budaya-di aktivitas mahasiswa di kampus kita. Kita telah &#8220;belajar&#8221; dari bagaimana kesalahan sistem yang diaplikasikan di negeri yang sedang sakit ini. Jika memang benar kita demikian, kita akan melihat bagaimana pergerakan mahasiswa di kampus kita akan mati muda dan kita pun (yang menjadi bagiannya) belum sempat merasakan atmosfir demokrasi yang sesungguhnya.</p>
<p>Bila hal demikian rupanya, kita tidak bisa terus bersikap sebagai pro <em>status quo.</em> Hal ini benar, jika kita lebih kritis pada permasalahannya, keadaan yang terjadi saat ini adalah bukan reformasi sebagaimana yang telah dilahirkan oleh para rekan-rekan kita pada dasa warsa yang lalu.</p>
<p>Apa yang kita hadapi saat ini adalah representasi dari Orde baru fase kedua. Bahkan di tingkat ormawa kampus kita, telah lahir dan bisa tumbuh subur para calon &#8220;soeharto-soeharto&#8221; baru yang menguasai (baca: mengungkung) hampir seluruh aktivitas mahasiswa.</p>
<p>Dengan demikian, yang kita lakukan adalah apakah kita sebagai pihak yang waras, yang kita lakukan adalah pro <em>status quo </em>yang salah ataukah kita melakukan &#8220;reformasi&#8221; fase kedua pula, yang kita sebut dengan revolusi di kampus kita? Ataukah kita menikamti kungkungan ini? Atau bahkan kita siap menjadi para pelopor untuk melakukan aksi layaknya &#8220;rastorasi Meiji&#8221;? Anda bisa memutuskan, yang mana tentu kita masih tetap membutuhkan kebersamaan untuk berubah-menjadi lebih baik-dalam melakukan aksi ini.</p>
<p>Sebagai penegas dalam aksi kita, saat ini di manapun teman-teman sekalian berada bahwa gerbong revolusi tetap akan berjalan. Pertanyaannya, di manakah posisi Anda saat ini?</p>
<p><strong><em>Sueb</em></strong></p>
<p><em>Jurusan Sastra Inggris 2007</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siar.endonesa.net/index.php/ormawa-antara-idealisme-dan-kepentingan.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>SEBUAH ASAL BAGI USUL PAMERAN KARYA UKMP</title>
		<link>http://siar.endonesa.net/index.php/sebuah-asal-bagi-usul-pameran-karya-ukmp.htm</link>
		<comments>http://siar.endonesa.net/index.php/sebuah-asal-bagi-usul-pameran-karya-ukmp.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 00:54:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://siar.endonesa.net/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Jayaning S.A.*
Aku menulis bukan karena kedudukanku sebagai ketua. Aku menulis ini, murni karena aku ingin orang tahu apa dan seperti apa sebenarnya pameran karya.
Aku tak tahu kapan tepatnya pameran karya digagas. Hanya saja, ada yang mengatakan bahwa gagasan ini muncul pertama kali ketika ada keprihatinan di kalangan masyarakat UKMP kenapa UKMP tak terlihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : <strong>Jayaning S.A.*</strong></p>
<p>Aku menulis bukan karena kedudukanku sebagai ketua. Aku menulis ini, murni karena aku ingin orang tahu apa dan seperti apa sebenarnya pameran karya.</p>
<p>Aku tak tahu kapan tepatnya pameran karya digagas. Hanya saja, ada yang mengatakan bahwa gagasan ini muncul pertama kali ketika ada keprihatinan di kalangan masyarakat UKMP kenapa UKMP tak terlihat eksis di kandangnya sendiri (maksudnya di UM). Ada yang menambahkan bahwa karena dalam perjalanannnya, UKMP pernah mengalami masa vakum berkepanjangan sehingga diperlukan suatu tindakan nekat yang entah bagaimanapun caranya harus terlaksana dan terlahirlah gagasan tentang pameran karya. Yang kemudian oleh beberapa pencetusnya dilanjutkan dengan perdagangan buku-buku indie (buku yang dicetak sendiri dengan printer, dan di jual sendiri hand-to-hand).<span id="more-17"></span></p>
<p>Seingat saya ceritanya begitu. Tapi sekali lagi, cerita ini didengar dari segelintir orang yang juga tak luput dari unsur lupa karena begitu lamanya perjalanan waktu. Jadi cerita ini tentu sangat bisa diklarifikasi kembali oleh pihak-pihak yang merasa lebih banyak tahu.</p>
<p>Tahun 2006 dulu, acara terbesar yang ada adalah bazaar buku dari berbagai penerbit plus toko buku dalam dan luar kota Malang. Pameran karya termasuk salah satu acara pendukungnya.</p>
<p>Waktu itu, lokasi pameran karya adalah di joglo perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang. Di tengah-tengah joglo digelar karpet dengan sketsel yang dipinjam dari fakultas sastra di sebelah utara dan selatan karpet. Dua sketsel lagi dipasang di bagian barat dan timur, ditempeli karya-karya anggota UKMP yang dimuat di media massa.</p>
<p>Pada tahun itu juga diperkenalkan istilah One Person One Book dan tradisi membentuk beberapa kelompok dari peserta diklat dimana masing-masing kelompok diwajibkan untuk membuat satu buku untuk dipajang saat pameran karya berlangsung. Tak ada ketentuan harus fiksi, non-fiksi, atau apapun.</p>
<p>Seingatku, saat itu tiap kelompok terdiri atas minimal 3 orang dan maksimal 5 orang. Tiap kelompok diwajibkan menyerahkan naskahnya pada panitia pameran karya maksimal H-berapa gitu.</p>
<p>Aku lupa apakah ada ancaman “sertifikat tidak diberikan kalau tidak menyerahkan karya” atau tidak, yang jelas aku menyambut hangat syarat itu. aku yang sebelumnya tak pernah berani tulisanku dibaca oleh orang lain menyerahkan puisi-puisiku dengan satu pikiran penguat “ini hanya syarat dan tak akan ada yang mau membaca tulisanmu”. Dan syarat itu terpenuhilah.</p>
<p>Semua hasil karya anggota yang dipajang serba sederhana tahun itu. Tipis-tipis, dengan layout sederhana, cover diprint dengan kertas putih biasa yang ditempelkan di kertas tebal entah apa namanya aku lupa, lalu direkatkan dengan lem rajawali.</p>
<p>Aku masih ingat, hampir semua buku berukuran seperempat kertas A4 waktu itu. Mungkin karena naskahnya terlalu sedikit. Mungkin.</p>
<p>Tahun kedua,tahun 2007 lalu, pameran karya diadakan pada tahun dimana ketua UKMP menghilang sejak pertengahan tahun kepengurusan. Lagi-lagi bulan November.</p>
<p>Konsep awal dari acara ini sama dengan tahun sebelumnya, bazar buku dengan pameran karya sebagai salah satu acara yang diunggulkan. Berjalan beberapa waktu sampai kemudian muncul kembali perdebatan tentang esensi dari bazaar buku. Berbagai argumen muncul, diadu, ditimbangkan, dan dikeluarkanlah keputusan bahwa bazaar buku sebagai acara utama dibatalkan, diganti dengan pameran karya sebagai acara utama dengan beberapa acara pendukung.</p>
<p>Ada apakah gerangan?</p>
<p>Waktu itu, salah satu senior mengatakan : “Semua terserah pada teman-teman pengurus, karena fungsi kami kan hanya memberi masukan.” Kemudian, ia tambahkan, “Menurutku, bazar itu sah-sah saja. toh itu juga kegiatan yang sangat positif untuk ajang latihan teman-teman pengurus. Tapi sekali lagi, kita kan UKM penulis. Saya hanya titip pesan supaya pameran karya dimaksimalkan.”</p>
<p>Dan akhirnya, alasan bagi pembatalan bazar buku adalah mengingat SDM UKMP yang terbatas dan yang paling esensial dari seluruh rangkaian bazar buku tahun terdahulu adalah mendatangkan banyak pengunjung supaya mereka melihat-lihat karya anggota UKMP, tapi ternyata perhatian pengunjung terserap pada buku-buku elegan bazar dan bukannya karya anggota UKMP, maka diputuskan bahwa bazar buku tidak diadakan (sebenarnya supaya tidak menjadi tandingan). Dan seluruh SDM yang ada benar-benar-benar dimurnikan untuk proses penyusunan buku karya anggota.</p>
<p>Palu diketok. Bazar buku tahun 2007 ditiadakan.</p>
<p>Tahun 2008, bazar buku masih tetap ditiadakan. Pameran karya murni yang kedua ini diadakan selama 2 hari di perpustakaan kota Malang pada hari Sabtu dan Minggu 22-23 November. Dilanjutkan dengan pameran di perpustakaan UM selama 4 hari, sejak hari Senin sampai Kamis, dan acara Pelatihan Menulis Artikel dan Laporan Penelitian.</p>
<p>Ya, banyak perubahan sepanjang perjalanan pameran karya tahun ini.</p>
<p>Awalnya, pameran akan diadakan di perpustakaan UM selama 5 hari, terhitung hari Senin sampai dengan Jumat. Proposal sudah disebar. Dan atas pertimbangan salah satu sponsor –malahan, mungkin karena mereka paham bagaimana seretnya keuangan mahasiswa- supaya bisa menggaet lebih banyak sponsor, acara pameran karya diselenggarakan di perpustakaan kota Malang. alasannya adalah perpustakaan kota adalah tempat yang dijangkau oleh semua kalangan tanpa batasan. Dan dengan pertimbangan kuantitas partisipan lomba yang diadakan untuk SMA, lomba baca puisi diadakan hari libur yaitu hari Minggu. Pembukaannya dirancang untuk digelar hari Sabtu, dengan pertimbangan bahwa acara yang akan digelar hari itu adalah launching buku antologi cerpen UKMP. Sasaran pemasarannya yang tak hanya masyarakat UM membuat panitia berfikir untuk memperkenalkannya secara perdana di perpustakaan kota.</p>
<p>Sekali lagi perubahan terjadi. Buku antologi cerpen UKMP tak mungkin sanggup diluncurkan bertepatan dengan jadwal launchingnya dalam rangkaian pameran karya, karena pertimbangan ketiadaan dana dan sebuah fakta bahwa buku ini memerlukan testimoni-testimoni dari “para tokoh” untuk mempengaruhi animo masyarakat membeli buku ini. Dan butuh waktu yang tidak singkat untuk mendapatkan ini.</p>
<p>Akhirnya, jadwal launching buku hari Sabtu di perpustakaan kota Malang dan hari Rabu di perpustakaan pusat UM di<em>cancel.</em> Satu alternatif untuk menutup ketiadaan acara hari Sabtu muncul : bedah buku “Berani Karena Goblok” tulisan Mas Yudhista Aditya Prastowo yang pernah mengenyam pengalaman “dijual secara indie”. Karena pameran buku ini adalah pameran buku-buku indie, yang dicetak dalam jumlah terbatas sesuai dengan keadaan dana.</p>
<p>Dan untuk mengisi acara hari Rabu yang kosong, secara tiba-tiba ketua pelaksana dan kordinator acara mengusulkan pengadaan parade baca puisi dari anggota UKMP. Salut untuk usul brilian ini.</p>
<p>Sejujurnya, aku orang yang turut dan sering terbawa arus. Bahkan dengan posisi sebagai ketua umum-pun, aku tak begitu paham mengapa orang-orang yang lebih banyak pengalaman di UKMP yang menjadi anak buahku sekarang ini begitu memperjuangkan acara pameran karya. Aku hanya bisa tengadah, memandang ke langit, dan bergumam, “Begitu menyedihkannya seorang ketua yang ikut saja apa kata anak buahnya, tanpa benar-benar paham mengapa ia mengikutinya”.</p>
<p>Suatu ketika, di hari yang keberapa pameran karya aku lupa, ada seorang anggota baru yang bertanya padaku “Apa sih mbak pentingnya pameran karya?”. Aku tertegun, diam. Kalau dulu sebelum pameran karya aku selalu bilang pada anggota-anggota baru bahwa “tak semua orang bisa memamerkan karyanya di perpustakaan kota, maka jangan pernah mau membuang kesempatan ini”, sekarang aku dilemparkan pada esensi paling dasar yaitu mengapa harus bersusah payah untuk bisa di pajang di perpustakaan kota.</p>
<p>Ya kenapa ya?</p>
<p>Aku sempat bingung, dan bersikap seolah-seolah sudah tahu jawabannya tapi kesulitan mengungkapkan. Padahal aslinya, aku juga tak mengerti jawabannya. Dalam kondisi kepepet tapi harus bisa meyakinkan orang lain -hiks..hiks..hiks..aku harus meyakinkan dia supaya dia mau berjuang untuk mewujudkan acara ini tahun depan, melaksanakan tanggung jawab ketua, hiks..- kucomot satu fakta psikologi yang bernama <em>menumbuhkan keberanian</em>, dengan contohnya adalah diriku sendiriku. Benar-benar menyedihkan.</p>
<p>Bunyi ceramahku adalah : “Misalnya begini, melangkah itu setapak demi setapak kan?”</p>
<p>Dia jawab ya.</p>
<p>“Pameran karya itu sebenarnya bermisi untuk menumbuhkan keberanian lho. Misalnya gini, ini berdasarkan pengalamanku sendiri lho ya. Ketika kamu belum pernah menulis atau tulisanmu itu belum pernah di baca orang lain, pastinya ada rasa ragu apakah tulisanmu layak dibaca oleh orang lain. Ragu, takut, dan yang sejenis itulah. Dan ketika tulisanmu itu dipajang di depan umum, kemudian dibaca orang, apa yang kamu rasakan?”, tambahku.</p>
<p>Dia jawab seneng.</p>
<p>“Kalau sudah seneng, apa yang akan kamu lakukan? Akan besar kemungkinan kamu akan lebih termotivasi untuk menulis. Bayangan burukmu bahwa orang-orang akan mencemooh tulisanmu akan hilang karena toh kalau jelek pastinya kita tanggung bersama-sama, dan kemudian kamu akan termotivasi untuk lebih. Mungkin dengan mengirimkan karyamu ke media massa atau ikut lomba-lomba. Nggak peduli masuk media atau tidak, menang atau tidak. Nggak semua orang lho berani menghadapi penolakan. Padahal penolakan adalah keberhasilan yang sedikit tertunda.”</p>
<p>Dia manggut-manggut. Semoga saja provokasiku berhasil.</p>
<p>Aku jadi ingat cerita salah satu fotografer Tempo yang kebetulan mampir dan sempat ngobrol lama denganku. Dokumentasi karya kita, entah yang dimuat di media massa atau yang diterbitkan secara indie, akan bisa jadi lampiran curiculum vitae kita ketika melamar pekerjaan di bidang kepenulisan. Dan nilainya tidak sedikit jika dibandingkan dengan orang-orang yang lulusan sastra cumlaude tapi tak punya pengalaman memadai.</p>
<p>Ha..ha..ha.. Sedikit lagi pamahamanku bertambah tentang fungsi pameran karya. Investasi curiculum vitae, kalau-kalau aku benar-benar ingin terlibat untuk bekerja di media. Bukan hanya jawaban ala kadarnya “untuk tinggalan anak cucu kalau leluhurnya pernah begini”, tapi benar-benar tampak manfaat riil yang bisa dipetik oleh penanamnya sendiri.</p>
<p>Ya, seiring berjalannya waktu dan usahaku untuk memahami, akhirnya Allah bersedia menurunkan salah satu anugerah-Nya yang paling berharga yaitu kepahamanku dan kepemilikan dasar atas apa yang sedang kulakukan dan kuperjuangkan.</p>
<p>Ya, seiring berjalannya waktu. Pemahaman itu tak muncul hanya dalam hitungan bulan, namun tahun.</p>
<p>Salam sayang untuk semua oknum UKMP yang mau bersabar memberikan waktu padaku untuk belajar memahami.</p>
<p><em>Malang, 1 Desember 2008</em></p>
<p><em>UKMP, jam 02.05 dini hari</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siar.endonesa.net/index.php/sebuah-asal-bagi-usul-pameran-karya-ukmp.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>JALAN YANG TERLALU BEBAS UNTUK MENUJU KEBEBASAN</title>
		<link>http://siar.endonesa.net/index.php/jalan-yang-terlalu-bebas-untuk-menuju-kebebasan.htm</link>
		<comments>http://siar.endonesa.net/index.php/jalan-yang-terlalu-bebas-untuk-menuju-kebebasan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 15:28:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Liputan]]></category>

		<category><![CDATA[D'massiv]]></category>

		<category><![CDATA[J-rock]]></category>

		<category><![CDATA[musik]]></category>

		<category><![CDATA[Nidji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://siar.endonesa.net/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Begitu banyak selebritis, penyanyi, grup band, dan 80.000 lebih massa yang berkumpul di lapangan Rampal pada 4 Agustus 2008, dari pukul 10.00 hingga 01.30 dini hari. Acara yang bertemakan &#8220;free your voice&#8221; ini menunjukkan semangat masing-masing individu untuk menyuarakan suara hatinya dengan bebas. Segala bentuk konsep performance masing-masing penyanyi dan grup band ditampilkan menjadi suguhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begitu banyak selebritis, penyanyi, grup band, dan 80.000 lebih massa yang berkumpul di lapangan Rampal pada 4 Agustus 2008, dari pukul 10.00 hingga 01.30 dini hari. Acara yang bertemakan &#8220;free your voice&#8221; ini menunjukkan semangat masing-masing individu untuk menyuarakan suara hatinya dengan bebas. Segala bentuk konsep <em>performance </em>masing-masing penyanyi dan grup band ditampilkan menjadi suguhan yang begitu menarik. Walaupun tidak semuanya memberikan satu konsep penampilan yang atraktif, cuma sekedar menghibur. Manggung, bernyanyi, dan memuat penonton puas. Sebenarnya tidak harus seperti itu. Untuk sebuah Soundrenaline terdapat satu konsep yang diusung untuk menyampaikan suatu misi, meski masih kental dengan unsur promosi dan meningkatkan image brand. Itu bisa menjadi satu pandangan yang lain.<span id="more-9"></span></p>
<p>Menyampaikan satu suara dengan mengajak untuk berbuat suatu yang positif. Mengajak dengan melalui media hiburan. Terlalu beresiko dengan segala kondisi yang ada. Kecenderungan sikap masyarakat yang apatis dengan apa yang terjadi menjadi batu ganjalan tersendiri. Seperti yang disuarakan oleh Nidji pada penampilannya kemarin. Mengusung konsep melawan pembajakan, bersama 15 Nidjiholic yang masing-masing membawa bendera yang tertera nama band-band Indonesia. Tindakan ini muncul setelah terjadi kegundahan dari masing-masing musisi termasuk Nidji.</p>
<p>Saat karya-karya mereka digandakan secara ilegal. Tidak ada unsur apresiasi dari kalangan pendengar dari karya-karya itu, yang bisa dilakukan hanya bertepuk tangan, berjoget, berdendang, dan berkomentar &#8220;Bagus..!&#8221; atau &#8220;Jelek!&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ini adalah karya yang sulit untuk dibuat, membutuhkan proses yang panjang dan melelahkan. Tidak layaklah karya ini dibajak&#8221; komentar Giring pada konfrensi pers.</p>
<p>Hal itu ditunjukkan Nidji yang melibatkan 30 Nidjiholic melalui pelatiahan pembuatan album. Disini ditunjukkan betapa sulitnya proses itu. Mulai dari menciptakan lagu, mengaransemen, rekaman, hingga membuat cover CD. Nidji memulainya dengan 1 hal kecil tersebut karena ini membutuhkan jalan yang sangat panjang untuk membangunkan masyarakat yang terlena akan kondisi buruknya saat ini.</p>
<p>Karena tidak cuma dengan tindakan Nidji saja perubahan itu akan terjadi.  Kita memang hidup di negara yang bebas tetapi hal itu bukan berarti bebas melakukan berbagai tindakan apa saja. Kalimat ini memang sudah terkesan basi, tetapi bila direnungkan berulang kali tentunya akan semakin dalam maknanya. Seperti orang lain yang mengambil sesuatu yang kita dapatkan dengan susah payah dengan seenaknya, setelah itu terjadi barulah kita tau bagaimana rasanya. Terlihat seperti anak kecil yang baru pertama melihat api dan memegangnya, tau rasanya sakit tidak akan mau melakukannya lagi. Apa itu yang harus terjadi?</p>
<p>Di cambuk dulu baru berjalan. Sama halnya yang di suarakan oleh J-rock. Tentang pencurian lagu daerah oleh negara tetangga. Sesuatu yang kecil diabaikkan, dan secara spontan amarah meledak.</p>
<p>Begitu banyak makna yang terkandung pada kisah perjalanan Soundrenaline dari pukul 10.00 hingga 01.30 dini hari. Tidak hanya tentang pasangan yang bercengkrama sambil mendengarkan lagu mellow D&#8217;massive. Tidak cuma itu! Tidak hanya menikamati dan bersenang-senang atas keasikan hiburan permainan yang tersedia. Tidak cuma itu! Tidak hanya membeli dan berbelanja suvenir di stan-stan penjualan. Tidak Cuma itu!</p>
<p>Kita hanya melihatnya dari bagian-bagian kecilnya saja. Dan mengabaikkan garis besar makna yang ada di dalamnya. Jangan cuma termakan sistem marketing dari Soundrenaline saja tetapi manfaatkan momen itu untuk bercermin inilah diri kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siar.endonesa.net/index.php/jalan-yang-terlalu-bebas-untuk-menuju-kebebasan.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Koleksi Sajak Chairil Anwar</title>
		<link>http://siar.endonesa.net/index.php/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm</link>
		<comments>http://siar.endonesa.net/index.php/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Dec 2007 00:57:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://siar.endonesa.net/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[

Aku
Penerimaan
Hampa
Doa
Sajak Putih
Senja Di Pelabuhan Kecil
Cintaku Jauh Di Pulau
Malam Di Pegunungan
Yang Terampas Dan Yang Putus
Derai-derai Cemara
Prajurit Jaga Malam
Malam
Karawang-Bekasi
Diponegoro
Maju
Persetujuan Dengan Bung Karno
Aku Berada Kembali
Dengan Mirat
Di Masjid
Mirat Muda, Chairil Muda
Nisan
Penerimaan
Rumahku
Tjerita Buat Dien Tamaela

Tjerita Buat Dien Tamaela
Beta Pattiradjawane
jang didjaga datu datu
Tjuma satu
Beta Pattiradjawane
kikisan laut
berdarah laut
beta pattiradjawane
ketika lahir dibawakan
datu dajung sampan
beta pattiradjawane pendjaga hutan pala
beta api dipantai,siapa mendekat
tiga kali menjebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry clear">
<ul>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#aku">Aku</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#penerimaan">Penerimaan</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#hampa">Hampa</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#doa">Doa</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#sajak">Sajak Putih</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#senja">Senja Di Pelabuhan Kecil</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#cintaku">Cintaku Jauh Di Pulau</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#malamdi">Malam Di Pegunungan</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#ygterampas">Yang Terampas Dan Yang Putus</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#derai">Derai-derai Cemara</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#prajurit">Prajurit Jaga Malam</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#malam">Malam</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#kerawang">Karawang-Bekasi</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#diponegoro">Diponegoro</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#maju">Maju</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#persetujuan">Persetujuan Dengan Bung Karno</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#aku_berada">Aku Berada Kembali</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#dg_mirat">Dengan Mirat</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#masjid">Di Masjid</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#mirat">Mirat Muda, Chairil Muda</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#nisan">Nisan</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#penerimaan">Penerimaan</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#rumahku">Rumahku</a></li>
<li><a href="../blog/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm#tjerita">Tjerita Buat Dien Tamaela</a></li>
</ul>
<p><a title="tjerita" name="tjerita"></a><strong>Tjerita Buat Dien Tamaela</strong></p>
<p>Beta Pattiradjawane<br />
jang didjaga datu datu<br />
Tjuma satu<br />
Beta Pattiradjawane<br />
kikisan laut<br />
berdarah laut<br />
beta pattiradjawane<br />
ketika lahir dibawakan<br />
datu dajung sampan<br />
beta pattiradjawane pendjaga hutan pala<br />
beta api dipantai,siapa mendekat<br />
tiga kali menjebut beta punja nama<br />
dalam sunyi malam ganggang menari<br />
menurut beta punya tifa<br />
pohon pala, badan perawan djadi<br />
hidup sampai pagi tiba<br />
mari menari !<br />
mari beria !<br />
mari berlupa !<br />
awas ! djangan bikin bea marah<br />
beta bikin pala mati, gadis kaku<br />
beta kirim datu-datu !<br />
beta ada dimalam, ada disiang<br />
irama ganggang dan api membakar pulau …….<br />
beta pattiradjawane<br />
jang didjaga datu-datu<br />
tjuma satu</p>
<p><a title="rumahku" name="rumahku"></a><strong>Rumahku</strong></p>
<p>Rumahku dari unggun-unggun sajak<br />
Kaca jernih dari segala nampak<br />
Kulari dari gedung lebar halaman<br />
Aku tersesat tak dapat jalan<br />
Kemah kudirikan ketika senjakala<br />
Dipagi terbang entah kemana<br />
Rumahku dari unggun-unggun sajak<br />
Disini aku berbini dan beranak<br />
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang<br />
Aku tidak lagi meraih petang<br />
Biar berleleran kata manis madu<br />
jika menagih yang satu<br />
April 1943</p>
<p><a title="penerimaan" name="penerimaan"></a><strong>Penerimaan</strong></p>
<p>Kalau kau mau kuterima kau kembali<br />
Dengan sepenuh hati<br />
Aku masih tetap sendiri<br />
Kutahu kau bukan yang dulu lagi<br />
Bak kembang sari sudah terbagi<br />
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani<br />
Kalau kau mau kuterima kembali<br />
Untukku sendiri tapi<br />
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.<br />
Maret 1943<br />
<a title="nisan" name="nisan"></a><strong>Nisan</strong></p>
<p>Bukan kematian benar menusuk kalbu<br />
Keridhaanmu menerima segala tiba<br />
Tak kutahu setinggi itu di atas debu<br />
Dan duka maha tuan tak bertahta.</p>
<p><a title="mirat" name="mirat"></a><strong>Mirat Muda, Chairil Muda</strong></p>
<p>Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,<br />
menatap lama ke dalam pandangnya<br />
coba memisah mata yang menantang<br />
yang satu tajam dan jujur yang sebelah.<br />
Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil;<br />
dan bertanya: Adakah, adakah<br />
kau selalu mesra dan aku bagimu indah?<br />
Mirat raba urut Chairil, raba dada<br />
Dan tahulah dia kini, bisa katakan<br />
dan tunjukkan dengan pasti di mana<br />
menghidup jiwa, menghembus nyawa<br />
Liang jiwa-nyawa saling berganti.<br />
Dia rapatkan<br />
Dirinya pada Chairil makin sehati;<br />
hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas<br />
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan dera,<br />
menuntut tinggi tidak setapak berjarak<br />
dengan mati<br />
di pegunungan</p>
<p>1943, ditulis 1949</p>
<p><a title="masjid" name="masjid"></a><strong>Di Masjid</strong></p>
<p>Kuseru saja Dia<br />
sehingga datang juga<br />
Kamipun bermuka-muka</p>
<p>seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada<br />
Segala daya memadamkannya</p>
<p>Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda</p>
<p>Ini ruang<br />
gelanggang kami berperang</p>
<p>Binasa membinasa<br />
satu menista lain gila</p>
<p><a title="dg_mirat" name="dg_mirat"></a><strong>Dengan Mirat</strong></p>
<p>Kamar ini jadi sarang penghabisan<br />
di malam yang hilang batas<br />
Aku dan engkau hanya menjengkau<br />
rakit hitam<br />
‘Kan terdamparkah<br />
atau terserah<br />
pada putaran hitam?<br />
Matamu ungu membatu<br />
Masih berdekapankah kami atau<br />
mengikut juga bayangan itu<br />
1946</p>
<p><a title="aku_berada" name="aku_berada"></a><strong>Aku Berada Kembali</strong></p>
<p>Aku berada kembali. Banyak yang asing:<br />
air mengalir tukar warna,kapal kapal,<br />
elang-elang<br />
serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;</p>
<p>rasa laut telah berubah dan kupunya wajah<br />
juga disinari matari lain.</p>
<p>Hanya<br />
Kelengangan tinggal tetap saja.<br />
Lebih lengang aku di kelok-kelok jalan;<br />
lebih lengang pula ketika berada antara<br />
yang mengharap dan yang melepas.</p>
<p>Telinga kiri masih terpaling<br />
ditarik gelisah yang sebentar-sebentar<br />
seterang<br />
guruh</p>
<p>1949</p>
<p><a title="persetujuan" name="persetujuan"></a><strong>Persetujuan Dengan Bung Karno</strong></p>
<p>Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji<br />
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu<br />
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu<br />
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945<br />
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu<br />
Aku sekarang api aku sekarang laut</p>
<p>Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat<br />
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar<br />
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak &amp; berlabuh</p>
<p>(1948)<br />
Liberty, Jilid 7, No 297, 1954</p>
<p><a title="diponegoro" name="diponegoro"></a><strong>Diponegoro</strong></p>
<p>Di masa pembangunan ini<br />
tuan hidup kembali<br />
Dan bara kagum menjadi api</p>
<p>Di depan sekali tuan menanti<br />
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.<br />
Pedang di kanan, keris di kiri<br />
Berselempang semangat yang tak bisa mati.</p>
<p><a title="maju" name="maju"></a><strong>Maju</strong></p>
<p>Ini barisan tak bergenderang-berpalu<br />
Kepercayaan tanda menyerbu.</p>
<p>Sekali berarti<br />
Sudah itu mati.</p>
<p>MAJU</p>
<p>Bagimu Negeri<br />
Menyediakan api.</p>
<p>Punah di atas menghamba<br />
Binasa di atas ditindas<br />
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai<br />
Jika hidup harus merasai</p>
<p>Maju<br />
Serbu<br />
Serang<br />
Terjang</p>
<p>(Februari 1943)<br />
Budaya,<br />
Th III, No. 8<br />
Agustus 1954<br />
<a title="kerawang" name="kerawang"></a><strong>Karawang-Bekasi</strong></p>
<p>Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi<br />
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.<br />
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,<br />
terbayang kami maju dan mendegap hati ?</p>
<p>Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi<br />
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak<br />
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.<br />
Kenang, kenanglah kami.</p>
<p>Kami sudah coba apa yang kami bisa<br />
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa</p>
<p>Kami cuma tulang-tulang berserakan<br />
Tapi adalah kepunyaanmu<br />
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan</p>
<p>Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan<br />
atau tidak untuk apa-apa,<br />
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata<br />
Kaulah sekarang yang berkata</p>
<p>Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi<br />
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak</p>
<p>Kenang, kenanglah kami<br />
Teruskan, teruskan jiwa kami<br />
Menjaga Bung Karno<br />
menjaga Bung Hatta<br />
menjaga Bung Sjahrir</p>
<p>Kami sekarang mayat<br />
Berikan kami arti<br />
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian</p>
<p>Kenang, kenanglah kami<br />
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu<br />
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi</p>
<p>(1948)<br />
Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957</p>
<p><a title="malam" name="malam"></a><strong>Malam</strong></p>
<p>Mulai kelam<br />
belum buntu malam<br />
kami masih berjaga<br />
–Thermopylae?-<br />
- jagal tidak dikenal ? -<br />
tapi nanti<br />
sebelum siang membentang<br />
kami sudah tenggelam hilang</p>
<p>Zaman Baru, No. 11-12; 20-30 Agustus 1957</p>
<p><a title="prajurit" name="prajurit"></a><strong>Prajurit Jaga Malam</strong></p>
<p>Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?<br />
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,<br />
bermata tajam<br />
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya<br />
kepastian<br />
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini<br />
Aku suka pada mereka yang berani hidup<br />
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam<br />
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……<br />
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !</p>
<p>(1948)<br />
Siasat, Th III, No. 96; 1949</p>
<p><a title="aku" name="aku"></a><strong>AKU</strong></p>
<p>Kalau sampai waktuku<br />
‘Ku mau tak seorang kan merayu<br />
Tidak juga kau</p>
<p>Tak perlu sedu sedan itu</p>
<p>Aku ini binatang jalang<br />
Dari kumpulannya terbuang</p>
<p>Biar peluru menembus kulitku<br />
Aku tetap meradang menerjang</p>
<p>Luka dan bisa kubawa berlari<br />
Berlari<br />
Hingga hilang pedih peri</p>
<p>Dan aku akan lebih tidak perduli</p>
<p>Aku mau hidup seribu tahun lagi</p>
<p>Maret 1943</p>
<p><a title="penerimaan" name="penerimaan"></a><strong>Penerimaan</strong></p>
<p>Kalau kau mau kuterima kau kembali<br />
Dengan sepenuh hati</p>
<p>Aku masih tetap sendiri</p>
<p>Kutahu kau bukan yang dulu lagi<br />
Bak kembang sari sudah terbagi</p>
<p>Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani</p>
<p>Kalau kau mau kuterima kembali<br />
Untukku sendiri tapi</p>
<p>Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.</p>
<p>Maret 1943</p>
<p><a title="hampa" name="hampa"></a><strong>HAMPA</strong></p>
<p>kepada sri</p>
<p>Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.<br />
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak<br />
Sampai ke puncak. Sepi memagut,<br />
Tak satu kuasa melepas-renggut<br />
Segala menanti. Menanti. Menanti.<br />
Sepi.<br />
Tambah ini menanti jadi mencekik<br />
Memberat-mencekung punda<br />
Sampai binasa segala. Belum apa-apa<br />
Udara bertuba. Setan bertempik<br />
Ini sepi terus ada. Dan menanti.</p>
<p><a title="doa" name="doa"></a><strong>DOA</strong></p>
<p>kepada pemeluk teguh</p>
<p>Tuhanku<br />
Dalam termangu<br />
Aku masih menyebut namamu</p>
<p>Biar susah sungguh<br />
mengingat Kau penuh seluruh</p>
<p>cayaMu panas suci<br />
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi</p>
<p>Tuhanku</p>
<p>aku hilang bentuk<br />
remuk</p>
<p>Tuhanku</p>
<p>aku mengembara di negeri asing</p>
<p>Tuhanku<br />
di pintuMu aku mengetuk<br />
aku tidak bisa berpaling</p>
<p>13 November 1943</p>
<p><a title="sajak" name="sajak"></a><strong>Sajak Putih</strong></p>
<p>Bersandar pada tari warna pelangi<br />
Kau depanku bertudung sutra senja<br />
Di hitam matamu kembang mawar dan melati<br />
Harum rambutmu mengalun bergelut senda</p>
<p>Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba<br />
Meriak muka air kolam jiwa<br />
Dan dalam dadaku memerdu lagu<br />
Menarik menari seluruh aku</p>
<p>Hidup dari hidupku, pintu terbuka<br />
Selama matamu bagiku menengadah<br />
Selama kau darah mengalir dari luka<br />
Antara kita Mati datang tidak membelah…</p>
<p><a title="senja" name="senja"></a><strong>Senja Di Pelabuhan Kecil</strong><br />
buat: Sri Ajati</p>
<p>Ini kali tidak ada yang mencari cinta<br />
di antara gudang, rumah tua, pada cerita<br />
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut<br />
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut</p>
<p>Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang<br />
menyinggung muram, desir hari lari berenang<br />
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak<br />
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.</p>
<p>Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan<br />
menyisir semenanjung, masih pengap harap<br />
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan<br />
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap</p>
<p>1946</p>
<p><a title="cintaku" name="cintaku"></a><strong>Cintaku Jauh Di Pulau</strong></p>
<p>Cintaku jauh di pulau,<br />
gadis manis, sekarang iseng sendiri</p>
<p>Perahu melancar, bulan memancar,<br />
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.<br />
angin membantu, laut terang, tapi terasa<br />
aku tidak ‘kan sampai padanya.</p>
<p>Di air yang tenang, di angin mendayu,<br />
di perasaan penghabisan segala melaju<br />
Ajal bertakhta, sambil berkata:<br />
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”</p>
<p>Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!<br />
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!<br />
Mengapa Ajal memanggil dulu<br />
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!</p>
<p>Manisku jauh di pulau,<br />
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.</p>
<p>1946</p>
<p><strong><a title="malamdi" name="malamdi"></a>Malam Di Pegunungan</strong></p>
<p>Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,<br />
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?<br />
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:<br />
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!</p>
<p>1947</p>
<p><a title="ygterampas" name="ygterampas"></a><strong>YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS</strong></p>
<p>kelam dan angin lalu mempesiang diriku,<br />
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,<br />
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu</p>
<p>di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin</p>
<p>aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang<br />
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;<br />
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang</p>
<p>tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku</p>
<p>1949</p>
<p><a title="derai" name="derai"></a><strong>DERAI DERAI CEMARA</strong></p>
<p>cemara menderai sampai jauh<br />
terasa hari akan jadi malam<br />
ada beberapa dahan di tingkap merapuh<br />
dipukul angin yang terpendam</p>
<p>aku sekarang orangnya bisa tahan<br />
sudah berapa waktu bukan kanak lagi<br />
tapi dulu memang ada suatu bahan<br />
yang bukan dasar perhitungan kini</p>
<p>hidup hanya menunda kekalahan<br />
tambah terasing dari cinta sekolah rendah<br />
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan<br />
sebelum pada akhirnya kita menyerah</p>
<p>1949</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siar.endonesa.net/index.php/koleksi-sajak-chairil-anwar.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Butuh Totalitas Tangani Pendidikan</title>
		<link>http://siar.endonesa.net/index.php/butuh-totalitas-tangani-pendidikan.htm</link>
		<comments>http://siar.endonesa.net/index.php/butuh-totalitas-tangani-pendidikan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Nov 2007 00:55:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://siar.endonesa.net/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[
Dunia pendidikan di Indonesia selalu ramai dengan masalah-masalah yang kompleks, saling berhubungan dan bertautan yang nantinya diharapkan dapat berkembang sesuai harapan kita bersama. Banyak permasalahan yang dihadapi pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah sistem Ujian Akhir Nasional (UAN) yang dari dulu sampai sekarang sering menimbulkan polemik diantara banyak pihak. Sebagian pihak menganggap UAN yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry clear">
<p>Dunia pendidikan di Indonesia selalu ramai dengan masalah-masalah yang kompleks, saling berhubungan dan bertautan yang nantinya diharapkan dapat berkembang sesuai harapan kita bersama. Banyak permasalahan yang dihadapi pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah sistem Ujian Akhir Nasional (UAN) yang dari dulu sampai sekarang sering menimbulkan polemik diantara banyak pihak. Sebagian pihak menganggap UAN yang bersifat terpusat tersebut sudah tidak sesuai lagi diterapkan sekarang. Karena, secara tidak langsung dianggap merampas hak seorang guru. Penilaian lulus tidak lulusnya seorang siswa seharusnya ditentukan oleh guru yang bersangkutan, bukannya pemerintah yang kurang memahami kondisi siswa. Untuk itulah gagasan penghapusan UAN perlu mendapat perhatian dan tindak lanjut yang tegas.<span id="more-19"></span><br />
Tak hanya soal UAN, tingginya biaya pendidikan di Indonesia pun juga masih merupakan masalah klasik. Dalam APBD telah diamanatkan anggaran pendidikan sebanyak 20%, namun itu rupanya hanya kerangka besar saja. Atau dapat dikatakan hanya formalitas belaka sebab prakteknya masih nol.</p>
<p>Selain itu juga juga adanya pembiayaan pendidikan berwatak sosial seperti subsidi silang sebagai sumber dana masyarakat. Kalau hanya solusi subsidi silang dikotomi pendidikan akan terus ada, sehingga sekolah akan menjadi barang mewah bagi golongan menengah ke bawah. Padahal dengan anggaran 20 % sudah semestinyalah mereka menikmati hak mereka sebagai imbalan dari kewajiban mereka (membayar pajak). Dengan begitu tidak ditemui lagi perbedaan kaya dan miskin.<br />
Masalah lain yang juga tak kalah pentingnya adalah masalah kesejahteraan guru yang masih kurang sebanding dengan pengorbanan yang telah dilakukannya.Kurangnya gaji membuat mereka menjadi kurang profesional dan berintelektual minim. Hal ini lebih disebabkan karena biasanya mereka harus mencari tambahan dari luar pofesi demi memenuhi kebutuhannya yang membuatnya tidak bisa optimal dalam menjalankan tugas pokoknya.</p>
<p>Persoalan-persoalan tersebut di atas merupakan masalah Nasional yang harus segera ditangani dalam rangkan memajukan pendidikan kita</p>
<p>Pendidikan di Indonesia dengan masalahnya yang sedemikian kompleks memang perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dari pemerintah. Tak hanya masalah infrastruktur saja, tapi juga masalah-masalah lain secara totalitas. Kita lihat saja contohnya dalam masalah UAN. Penerapan kebijakan UAN yang diterapkan di Indonesia merupakan pengaruh aliran psikologi behavioristik. Tujuan dari kebijakan ini adalah bahwa melalui sistem evaluasi terpusat maka hasil pendidikan secara kuantitatif bisa terukur dalam standart-standart tertentu. Dalam upaya untuk menilai dan mengukur standardisasi hasil pembelajaran di Indonesia, prinsip penilaian semacam itu memang dianggap memudahkan dan mampu mengukur efektivitas pendidikan sebagai suatu hasil pendidikan yang bersifat nyata. Namun, penilaian semacam ini hanya melihat intelektualitas dari segi hasil pembelajaran saja daripada proses pembelajaran itu sendiri. Sehingga, pengalaman-pengalaman yang terjadi selama proses pendidikan sering diabaikan.</p>
<p>Menurut buku â€˜Pengantar Pendidikanâ€™ karangan Prof. Dr. Umar Tirtarahardja<br />
(hal 232), cara mengukur kualitas mutu pendidikan bukanlah hal yang mudah. Sehubungan dengan sulitnya pengukuran terhadap mutu pendidikan tersebut, maka jika orang berbicara tentang mutu pendidikan, umumnya hanya mengasosiasikan dengan hasil belajar yang dikenal sebagai hasil UAN (yang biasa disebut dengan instructional effect) karena ini yang mudah diukur. Padahal hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal maka sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu. Ini berarti bahwa pokok permasalahan mutu pendidikan terletak pada masalah pemrosesan pendidikan.</p>
<p>Masalah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan mutu. Di dalam TAP MPR RI 1998 tentang GBHN dinyatakan bahwa titik berat pembangunan pendidikan diletakkan pada peningkatan mutu setiap jenjang dan jenis pendidikan. Sehingga, dapat dikaitkan dengan masalah tingginya biaya pendidikan yang membuat pendidikan di Indonesia tidak merata. Sekalipun dalam anggaran telah dituliskan sebanyak 20 % untuk pendidikan, namun kenyataanya semua itu hanyalah formalitas belaka. Tanpa ada realisasi yang nyata. Dalam hal ini seharusnya pemerintah lebih mengutamakan sektor pendidikan dibanding sektor yang lain karena dari situlah akan terbentuk SDM-SDM berkualitas yang nantinya mampu bersaing di dunia internasional dan memajukan bangsa. Pemerintah juga harus bisa menghindari Hot Money (penumpukan modal di sektor-sektor tertentu yang kurang berguna) dan dapat mendistribusikan pajak secara tak langsung melalui pengembangan pendidikan. Hal ini sesuai dengan UUD â€™45 pasal 31 yang menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara Indonesia berhak atas pendidikan dan pengajaran.</p>
<p>Masalah lain yang tak kalah penting adalah masalah kesejahteraan guru. Dari dulu hingga sekarang rupanya kesejahteraan guru selalu jadi topik pembahasan yang tak pernah ada habisnya. Sebab, pengorbanan yang dilakukan seorang guru masih kurang sebanding dengan gaji yang didapatnya. Sekalipun pekerjaan guru itu pekerjaan mulia, tapi guru juga seorang manusia yang memiliki bermacam-macam kebutuhan. Entah untuk dirinya sendiri maupun juga untuk keluarganya. Pemerintah harusnya lebih memperhatikan hal ini. Karena gurulah yang selama ini mengemban amanat untuk mencerdaskan bangsa.</p>
<p>Guru sebagai motor penggerak siswa, juga seharusnya mendapat pengajaran khusus tentang perkembangan IPTEK saat ini. Menurut pendapat Prof. Dr. Umar Tirtarahardja, (Buku â€˜Pengantar Pendidikanâ€™, hal 253), dahulu guru memang dianggap sebagai satu-satunya sumber belajar, karena ilmu pengetahuan belum berkembang. Namun, seiring berjalannya waktu, guru tak lagi menjadikan dirinya sebagai sumber ilmu. Melainkan, lebih kepada menunjukkan jalan bagaimana cara memperoleh pengetahuan, yaitu dengan melalui mengembangkan budaya membaca dan budaya meneliti sesuatu (scientific curiesity). Guru mendudukkan dirinya hanya sebagai bagian dari sumber belajar.</p>
<p>Dari berbagai uraian di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa untuk mengembangkan sistem pendidikan beserta dengan pemecahan masalah-masalahnya di Indonesia, harus benar-benar dilakukan secara totalitas, yang mencakup pemerintah, masyarakat, pendidik, dan siswa itu sendiri. Sehingga persoalan pendidikan yang kita hadapi sekarang segera terselesaikan / tertangani dalam rangka memajukan pendidikan kita.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siar.endonesa.net/index.php/butuh-totalitas-tangani-pendidikan.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>HAM dalam Bidang Pendidikan di Indonesia</title>
		<link>http://siar.endonesa.net/index.php/ham-dalam-bidang-pendidikan-di-indonesia.htm</link>
		<comments>http://siar.endonesa.net/index.php/ham-dalam-bidang-pendidikan-di-indonesia.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Feb 2007 00:50:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://siar.endonesa.net/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[
Refleksi Hari Hak Asasi Manusia 10 Desember
Kemarin, 10 Desember 2006 diperingati sebagai International Human Right Day (Hari Hak Asasi Manusia). Bermacam elemen peduli HAM memperingatinya dengan aksi demonstrasi menuntut penegakan HAM di Indonesia, ada juga aksi simpatik dengan membagi-bagikan brosur yang berisi penghentian aksi-aksi yang mencederai HAM. Pun, ada beberapa komunitas yang “hanya” melakukan renungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry clear">
<p><em>Refleksi Hari Hak Asasi Manusia 10 Desember</em></p>
<p>Kemarin, 10 Desember 2006 diperingati sebagai International Human Right Day (Hari Hak Asasi Manusia). Bermacam elemen peduli HAM memperingatinya dengan aksi demonstrasi menuntut penegakan HAM di Indonesia, ada juga aksi simpatik dengan membagi-bagikan brosur yang berisi penghentian aksi-aksi yang mencederai HAM. Pun, ada beberapa komunitas yang “hanya” melakukan renungan atau refleksi tentang praktik HAM di Indonesia sambil tak lupa mendoakan arwah Munir SH, aktifis HAM yang harus meninggal karena diracun arsenik di pesawat yang mengantarkan kepergiannya ke Belanda untuk menuntut ilmu.<span id="more-11"></span></p>
<p><strong>Sejarah Kelahiran dan Perkembangannya</strong></p>
<p>Hak asasi merupakan hak yang telah dimiliki oleh manusia yang telah diperolehnya yang dibawanya bersamaan dengan kelahiran atau kehadirannya dalam kehidupan bermasyarakat. Dianggap bahwa beberapa hak itu dimilikinya tanpa perbedaan atas dasar bangsa, ras, agama atau kelamin, karena itu bersifat asasi serta universal. Dasar dari semua hak asasi ini ialah bahwa manusia harus memperoleh kesempatan untuk berkembang sesuai dengan bakat dan cita-citanya.<br />
Setelah dunia mengalami dua perang yang melibatkan hampir semua seluruh dunia dan di mana hak-hak asasi diinjak-injak, timbul keinginan untuk merumuskan hak-hak asasi manusia itu dalam suatu naskah internasional. Usaha ini pada 10 Desember 1948 berhasil dengan diterimanya Universal Declaration Of Human Rights (Pernyataan Sedunia tentang Hak-Hak Asasi Manusia) oleh negara-negara yang tergabung dalam perserikatan bangsa-bangsa.<br />
Dalam sejarah umat manusia telah tercatat banyak kejadian di mana seseorang atau golongan manusia mengadakan perlawanan terhadap penguasa atau golongan lain untuk memperjuangkan apa yang disebut dengan haknya. Sering perjuangan ini menuntut pengorbanan jiwa dan raga. Juga di dunia barat sering kali ada usaha untuk merumuskan serta memperjuangkan beberapa hak yang dianggap suci dan harus dijamin. Keinginan ini timbul setiap kali terjadi hal-hal yang dianggap menyinggung perasaan dan merendahkan martabat seseorang sebagai manusia. Dalam proses ini telah terlahir beberapa naskah yang secara berangsur-angsur menetapkan bahwa ada beberapa hak yang mendasari kehidupan manusia dan karena itu bersifat universal dan asasi. Naskah tersebut adalah sebagai berikut:<br />
1.Magna Charta (Piagam Agung, 1215), suatu dokumen yang mencatat beberapa hak yang diberikan oleh raja John dari Inggris kepada beberapa bangsawan bawahanya atas tuntutan mereka. Naskah ini sekaligus membatasi kekuasaan raja John itu<br />
2.Bill Of Rights (Undang-Undang Hak, 1689), suatu undang-undang yang diterima oleh parlemen inggris sesudah berhasil dalam tahun sebelumnya mengadakan perlawanan terhadap raja James II, dalam suatu revolusi tak berdarah (The Glorious Revolution of 1688)<br />
3.Declaration de droits de i’homme et du citoyen (Pernyataan hak-hak manusia dan warga negara, 1789), suatu naskah yang dicetuskan pada permulaan revolusi Prancis, sebagai perlawanan terhadap kesewenangan dari rezim lama<br />
4. Bill of Rights (Undang-Undang Hak), suatu naskah yang disusun oleh rakyat Amerika dalam tahun 1789 (jadi sama tahunya dengan Deklarasi Prancis), dan yang menjadi bagian dari undang-undang dasar pada tahun 1791.<br />
Hak-hak yang dirumuskan dalam abad ke-17 dan abad ke-18 ini sangat dipengaruhi oleh gagasan mengenai hukum alam (Natural Law), seperti yang dirumuskan oleh John Locke (1632-1714) dan hanya terbatas pada hak-hak yang bersifat politis saja seperti kesamaan hak, hak atas kebebasan, hak untuk memilih dan sebagainya.<br />
Akan tetapi dalam abad ke-20, hak-hak politik ini dianggap kurang sempurna dan mulailah dicetuskan beberapa hak lain yang lebih luas ruang lingkupnya. Yang sangat terkenal ialah empat hak yang dirumuskan Presiden Amerika serikat, Franklin D Roosevelt pada permulaan awal perang dunia II waktu berhadapan dengan agresi Nazi-Jerman yang menginjak-injak hak-hak manusia. Hak-hak yang disebut oleh presiden Roosevelt terkenal dengan istilah The Four Freedoms (Empat Kebebasan) yaitu:<br />
1.Kebebasan untuk berbicara dan menyatakan pendapat (freedom of spech)<br />
2.Kebebasan beragama (freedom of religion)<br />
3.Kebebasan dari ketakutan (freedom from fear)<br />
4.Kebebasan dari kemelaratan (freedom from want)<br />
Hak yang keempat yakni kebebasan dari kemelaratan, khususnya mencerminkan perubahan dari alam pikiran umat manusia yang menganggap bahwa hak-hak politik pada dirinya dirasa tidak cukup untuk menciptakan kebahagiaan untuknya. Dianggap bahwa hak politik misalnya, hak untuk menyatakan pendapat, tahu hak untuk memilih dalam pemilihan umum yang diselenggarakan sekali dalam empat atau lima tahun, tidak ada artinya jika kebutuhan manusia yang paling pokok, yaitu kebutuhan akan sandang, pangan dan perumahan, tidak dapat dipenuhi. Menurut anggapan ini hak manusia juga harus mencakup bidang ekonomi, sosial dan budaya.</p>
<p><strong>Pelaksanaan HAM dalam Bidang Pendidikan di Indonesia</strong></p>
<p>Dimotori oleh Alm Munir SH, pelaksanaan HAM di Indonesia berangsur-angsur menuju ke arah yang lebih baik. Pelaksanaan HAM di Indonesia juga sudah membawa angin segar bagi masyarakatnya, seperti kebebasan berpendapat, berorganisasi, dan sebagainya. Hanya saja belum sempurna, orang-orang lemah kadang masih diperlakukan secara semena-mena. Contoh: orang cacat atau miskin sulit mendapatkan kesempatan dalam menempuh pendidikan di sekolah umum. Padahal, hak atas pengajaran diatur pada Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 31 Yang berbunyi: 1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran; 2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang. Pun, juga diatur pada Declaration of Human Rights, Pasal 26 yang berbunyi: 1) Setiap orang berhak mendapat pengajaran, pengajaran harus dengan cuma-cuma, setidak-tidaknya dalam tingkatan sekolah rendah dan tingkatan dasar. Pengajaran sekolah rendah harus diwajibkan. Pengajaran teknik dan vak harus terbuka bagi semua orang dan pelajaran tinggi harus dapat dimasuki dengan cara yang sama oleh semua orang, berdasarkan kecerdasan; 2) Pengajaran harus ditujukan ke arah perkembangan pribadi yang seluas-luasnya serta untuk memperkokoh rasa penghargaan terhadap hak-hak manusia dan kebebasan asasi. Pengajaran harus mempertinggi saling pengertian, rasa saling menerima serta rasa persahabatan antara semua bangsa, golongan-golongan kebangsaan atau golongan penganut agama, serta harus memajukan kegiatan-kegiatan perserikatan bangsa-bangsa dalam memelihara perdamaian; 3) Ibu-bapak mempunyai hak utama untuk memilih macam pengajaran yang akan diberikan kepada anak-anak mereka. Dan juga diatur dalam Covenanton Economic, Social and Culture Rights, pasal 13 yang berbunyi: Negara-negara peserta dalam perjanjian ini mengakui hak setiap orang atas pendidikan. Mereka sepakat bahwa pendidikan akan mengarah kepada pengembangan penuh dari kepribadian orang serta kesadaran akan harga dirinya, serta memperkuat rasa hormat terhadap hak-hak manusia serta kebebasan-kebebasan dasar. Mereka selanjutnya sepakat bahwa pendidikan memungkinkan semua orang untuk ikut serta secara efektif dalam masyarakat yang bebas, meningkatkan rasa pengertian, toleransi serta persahabatan antarbangsa-bangsa dan semua kelompok jenis bangsa, suku atau agama, serta memajukan kegiatan-kegiatan perserikatan bangsa-bangsa memelihara perdamaian.</p>
<p>oleh: <strong>Didik Harianto </strong>*</p>
<p>* mahasiswa Sastra Indonesia Univesitas Negeri Malang<br />
Pimpinan Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa SIAR UM,<br />
Badan Pekerja Kota Perhimpunan Pers Mahasiswa Dewan Kota Malang dan aktif di UKM Penulis UM.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siar.endonesa.net/index.php/ham-dalam-bidang-pendidikan-di-indonesia.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tangis Jelek Ibu di Pasar</title>
		<link>http://siar.endonesa.net/index.php/tangis-jelek-ibu-di-pasar.htm</link>
		<comments>http://siar.endonesa.net/index.php/tangis-jelek-ibu-di-pasar.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Jul 2006 00:58:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://siar.endonesa.net/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[
Pagi ini aku bangun dengan tergesa-gesa. Setelah jam wekerku berbunyi lima kali, aku segera beranjak ke kamar mandi. Cuci muka lalu gosok gigi. Dengan bersemangat, aku bernyanyi lagu kesukaanku tiap pagi. â€œ Bangun pagi ku terus mandi. Tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kuâ€¦.â€ . Tiba-tiba laguku terpotong karena kudengar ketukan halus di pintu kamar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry clear">
<p>Pagi ini aku bangun dengan tergesa-gesa. Setelah jam wekerku berbunyi lima kali, aku segera beranjak ke kamar mandi. Cuci muka lalu gosok gigi. Dengan bersemangat, aku bernyanyi lagu kesukaanku tiap pagi. â€œ Bangun pagi ku terus mandi. Tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kuâ€¦.â€ . Tiba-tiba laguku terpotong karena kudengar ketukan halus di pintu kamar mandi. â€œ Adik, Ibu mau ke pasar. Adik mau ikut Ibu, tidak ?â€ , sapa Ibuku halus di balik pintu. Oh, rupanya Ibu yang mengetuk pintu. â€œ Iya Bu, Adik ikut. Tunggu ya, Bu â€œ, jawabku sambil cepat-cepat mengeringkan wajahku dengan handuk.</p>
<p>Setelah gosok gigi, aku pun sgera menghampiri ibu yang sudah menungguku di luar. Kulihat ibu sudah berdiri di depan pagar sambil menenteng tas belanjaan merahnya. Hup, hup, kumeloncat-loncat di antara batu-batu yang berjajar rapi di rumahku dan hupâ€¦langsung kugandeng tangan Ibu. Ibu melihatku dengan senyumnya yang cantik. Dan kita pun akhirnya bersama-sama berangkat ke pasar.<span id="more-27"></span></p>
<p>Aku menyukai hari Minggu pagi. Karena Ibu biasanya akan mengajakku ke pasar. Di pasar itu aku bisa melihat orang melakukan bermacam-macam kegiatan. Ada yang berteriak-teriak, â€œ Mari Bu sini. Sayurnya masih seger-seger, lho. Mau beli berapa ikat, Bu ?â€ , atau â€œ Yang manisâ€¦yang manisâ€¦Neng. Mangganya manis, Neng. Mari beliâ€ . Hi hi hi rasanya geli melihat di sepanjang jalan orang-orang itu akan menawari kita barang dagangannya. Biasanya ibuku akan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dan aneh, pedagang-pedagang itu sepertinya tahu kalau Ibu tidak ingin membeli barang dagangannya, padahal ibu tak bicara apa-apa.</p>
<p>Kalau ke pasar ibu suka mengunjungi tempat orang jual buah-buahan. Di sana ada penjual wanita yang bertubuh gemuk. Tapi meskipun ia gemuk, ia terlihat gesit ketika melayani pembelinya. Biasanya ia bicara dengan bahasa yang aneh. Suaranya keras sekali sampai terkadang aku agak menjauh agar telingaku tak sakit. Ia begitu bersemangat menjajakan dagangannya. Ibuku senang membeli buah-buahan di sana, karena katanya wanita itu sering memberinya potongan harga. Jadi, ibu bisa membayar lebih murah. Terkadang ia juga mengajakku berbicara, â€œ Nona cantik, suka makan buah-buahan, tidak ? â€œ, tanyanya padaku. â€œ Mmmâ€¦sukaâ€ , jawabku malu-malu. â€œ Ya memang mesti begitu. Biar nggak mudah sakit, harus banyak makan buah-buahan, ya. Nih Ibu kasih Apel. Apelnya manis kok, dihabiskan ya ?â€ , tegasnya sambil mengulurkan sebuah apel berwarna merah padaku. â€œ Bilang apa, Dik ?â€ , sela ibuku. â€œ Terima kasih, Bu â€œ, jawabku tersipu di balik lengan ibu.</p>
<p>Setelah itu, Ibu akan melanjutkan ke tempat orang jual ikan segar. Aku tidak terlalu suka tempat itu. Di sana baunya tidak enak. Mungkin karena ikan-ikan itu kan sudah mati semua, jadinya mulai mengeluarkan bau amis. Ah, tapi kata Ibuku tempat jualan ikan memang mesti amis begitu. Selain bau amis, tempat itu juga banyak lalatnya. Di sana sini lalat itu mengerubungi ikan yang matanya sudah melotot semua. Tapi ada juga lho, ikan yang masih hidup. Ibuku lebih suka membeli ikan yang masih hidup itu. Katanya kalau masih hidup, ikannya masih segar jadi nggak takut salah pilih ikan. Soalnya, biasanya ikan yang dijual mati itu sudah beberapa hari dijual terus belum laku. Kalau dibiarin aja kena lalat kan semakin banyak kuman yang menempel. Ihhhâ€¦..</p>
<p>Eh iya, di pasar aku lebih suka ke tempat ibu tua penjual kue. Di sana ada donat, roti gulung, lemper, lumpia, dan yang paling aku sukai yaitu kembang gula. Hmm..rasanya yang manis dan seperti terasa ada yang meluncur di lidahku. Lembut sekali di mulut.<br />
Pernah suatu kali aku tiba-tiba menghilang dari gandengan ibu. Soalnya, waktu itu Ibu sedang sibuk memilih-milih sayuran dan bumbu-bumbu. Aku malas menunggu Ibu. Selain karena udaranya yang panas, juga orang-orang mulai berdesakkan di sekitarku. Tubuhku disenggol-senggol oleh mereka. Apalagi waktu itu ada ibu-ibu berbadan besar sekali yang berdiri tepat di samping ibuku. Mungkin karena ia tak melihatku, jadi ia semakin seenaknya saja menghimpitku diantara pantatnya dan pantat ibuku. Uuuhhâ€¦sesak sekali rasanya.</p>
<p>Akhirnya aku melepaskan tanganku dari gandengan Ibu dan keluar dari kerumunan itu. Perutku tiba-tiba terasa lapar sekali. Aku ingin makan sesuatu, tapi bagaimana yah ?. Ibuku masih dalam antrean itu. Wah, dari pada nunggu Ibu lebih baik aku beli kue sendiri saja deh. Kebetulan aku punya uang lima ratus rupiah di kantongku. Aha ! aku melihat ada seorang anak keluar dari kerumunan orang sambil membawa kue donat. Langsung kulangkahkan kakiku ke sana cepat-cepat agar ibuku tak berpindah tempat sebelum aku kembali.</p>
<p>Setelah beberapa penjual aku lewati, akhirnya sampailah aku di tempat penjual kue itu. Wahâ€¦rasanya air liurku mau menetes. Di sana banyak sekali kue dengan warna yang bermacam-macam. Tapi mataku langsung tertumbuk pada kue berwarna merah muda yang dibungkus plastik. Itu adalah kue kembang gula. Ibuku dulu pernah membelikanku saat jalan-jalan di alun-alun bersama ayah. Pertama kali ibuku memberikannya padaku aku langsung melonjak-lonjak kegirangan. Warnanya bagus sekali dan mmmâ€¦.rasanya sangat manis. Sejak itu, aku tak pernah lupa untuk minta dibelikan kembang gula saat berjalan-jalan di alun-alun.</p>
<p>Kemudian kusodorkan uangku ke penjual kue itu, â€œ Bu saya beli kembang gula ituaâ€ , tunjukku. Ia mengambilkannya dan menyodorkan padaku. Uang lima ratus rupiah di kantongkus segera kuulurkan padanya. Namun, ia menatapku tanpa mengambil uang itu . â€œ Nak, harganya seribu. Uangmu cuma lima ratus rupiah, jadi masih kurangâ€ , terangnya. Yahâ€¦.padahal aku sudah membuka bungkusnya dan mengambilnya sesuap. Aku pun akhirnya berkata, â€œ Sebentar ya Bu, aku akan meminta uang pada ibuku dulu. Kuenya saya tinggal di sini duluâ€ . Ia berhenti sejenak menatapku danâ€¦. , â€œ Baiklah, tapi segera kembali, ya â€œ. Aku pun mengangguk dan bergegas pergi.<br />
Di tempat ibuku berkerumun tadi aku berusaha mencari-cari Ibu. Lho, tapi Ibu kok tidak ada ?!. Aku berusaha mencari di dalam kerumunan itu, tapi ternyata tetap tidak kutemukan. Air mataku mulai menetes. Dengan lirih kupanggil, â€œ Ibuâ€¦Ibuâ€¦â€ . Sampai akhirnya tempat itu sepi dan tak kulihat Ibu sama sekali. Sambil melangkah dengan takut-takut, aku menghampiri penjual kue itu lagi. Aku pun memberanikan diri untuk bicara padanya. â€œ Bu, maaf ternyata Ibuku sudah tidak ada. Saya tidak punya uang lagiâ€ , terangku. Danâ€¦hhuuaaâ€¦.aku menangis kencang-kencang di hadapannya. Ibu tua itu kemudian memelukku dan berusaha menenangkan aku.<br />
Tak lama kemudian dari gang di sampingku kudengar ada yang berteriak , â€œAraaaâ€¦.â€ . Ups, ada yang memanggil namaku. Aku menolehkan kepala kea rah itu. Dan kulihat Ibuku sudah berlari ke arahku sambil menenteng tas belanjaannya yang terlihat berat itu. Wajahnya pucat penuh keringat. Mungkin ia lelah berkeliling mencariku. Aku pun serta merta berlari ke arahnya dan memeluk perutnya erat-erat. â€œ Ibuuuâ€¦â€¦..â€ , sakku di pelukannya. Orang-orang di sekitarku pun tak luput melihat kami. Baru kali ini kulihat Ibu menangis. Rupanya wajah Ibu kalau menangis jelek sekali, karena mukanya memerah dan keluar ingus dari hidungnya.<br />
Setelah tangisku reda, Ibuku mengajakku pulang dan tak lupa membayar kekuranganku yang tadi. Sambil berlalu pergi, Ibu tua itu tak lupa melambaikan tangannya padaku. Ah, aku berjanji esok hari aku akan ke sini lagi. Ternyata kembang gula ibu tua itu sangat enak. Tapi, aku akan mengajak ibuku. Sambil digandeng Ibu, kupikir ia akan memarahiku tapi ternyata ia malah menasehatiku agar suatu saat nanti minta ijin terlebih dulu jika ingin pergi ke suatu tempat. Senangnya hatiku punya Ibu yang begitu baik.<br />
Sejak saat itu, aku selalu minta ijin pada Ibu kemana pun aku akan pergi. Karena aku tidak mau melihat Ibuku menangis lagi. Ibuku lebih cantik kalau tersenyum. Kata Ayah, senyum Ibu itulah yang membuatku hadir di dunia ini. Sebenarnya maksud Ayah apa, ya ? Ah, mungkin itu semacam pembicaraanya orang-orang yang sudah seâ€™gedeâ€™ mereka.</p>
<p>Jadilah setelah Ibuku mengajakku berkeliling pasar, kami pun pulang. Satu hal yang aku sukai juga, yaitu kita selalu pulang naik becak. Aku menyukainya karena aku bisa melihat kendaraan di sekitarku dan rasanya sejuk sekali karena bisa merasakan angin yang berhembus. Tak jarang akhirnya aku tertidur di pangkuan Ibu karena saking enaknya. Perjalananku ke pasar sungguh sangat menyenangkan. Esok hari aku pasti akan menantikan perjalanan ke pasar lagi.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siar.endonesa.net/index.php/tangis-jelek-ibu-di-pasar.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KODE ETIK PPMI</title>
		<link>http://siar.endonesa.net/index.php/kode-etik-ppmi.htm</link>
		<comments>http://siar.endonesa.net/index.php/kode-etik-ppmi.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 May 2006 00:57:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://siar.endonesa.net/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[1. Pers mahasiswa mengutamakan idealisme.
2. Pers mahasiswa menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.
3. Pers mahasiswa proaktif dalam usaha mencerdaskan bangsa, membangun demokrasi dan mengutamakan kepentingan rakyat.
4. Pers mahasiswa dengan penuh rasa tanggung jawab menghormati, memenuhi dan menjunjung tinggi hak rakyat untuk memperoleh informasi yang benar dan jelas.
5. Pers mahasiswa harus menghindari pemberitaan diskriminasi yang berbau sara.
6. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Pers mahasiswa mengutamakan idealisme.<br />
2. Pers mahasiswa menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.<br />
3. Pers mahasiswa proaktif dalam usaha mencerdaskan bangsa, membangun demokrasi dan mengutamakan kepentingan rakyat.<br />
4. Pers mahasiswa dengan penuh rasa tanggung jawab menghormati, memenuhi dan menjunjung tinggi hak rakyat untuk memperoleh informasi yang benar dan jelas.<br />
5. Pers mahasiswa harus menghindari pemberitaan diskriminasi yang berbau sara.<br />
6. Pers mahasiswa wajib menghargai dan melindungi hak nara sumber yang tidak mau disebut nama dan identitasnya.<br />
7. Pers mahasiswa menghargai off the record terhadap korban kesusilaan dan atau pelaku kejahatan/tindak pidana dibawah umur.<br />
8. Pers mahasiswa dengan jelas dan jujur menyebut sumber ketika menggunakan berita atau tulisan dari suatu penerbitan, repro gambar/ilustrasi, foto dan atau karya orang lain.<br />
9. Pers mahasiswa senantiasa mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan harus objektif serta proporsional dalam pemberitaan dan menghindari penafsiran/kesimpulan yang menyesatkan.<br />
10. Pers mahasiswa tidak boleh menerima segala macam bentuk suap, menyiarkan atau mempublikasikan informasi serta tidak memanfaatkan posisi dan informasi yang dimilikinya untuk kepentingan pribadi dan golongan.<br />
11. Pers mahasiswa wajib memperhatikan dan menindak lanjuti protes, hak jawab, somasi, gugatan dan atau keberatan-keberatan lain dari informasi yang dipublikasikan berupa pernyataan tertulis atau ralat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siar.endonesa.net/index.php/kode-etik-ppmi.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>WISMA IKIP</title>
		<link>http://siar.endonesa.net/index.php/wisma-ikip.htm</link>
		<comments>http://siar.endonesa.net/index.php/wisma-ikip.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2005 00:56:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Liputan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://siar.endonesa.net/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[
Sepintas, tak ada yang menarik dari bangunan di jalan Tumapel 1 itu. Seperti kebanyakan rumah peninggalan kaum penjajah Belanda yang lain, berdiri angkuh dan pongah dalam ketuaan usianya. Bangunan ini terasa sedikit berbeda dengan yang lain. Ada papan besi di depannya yang tertuliskan “Wisma IKIP” dengan besi yang sudah berkarat dan dalam keadaan yang sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry clear">
<p>Sepintas, tak ada yang menarik dari bangunan di jalan Tumapel 1 itu. Seperti kebanyakan rumah peninggalan kaum penjajah Belanda yang lain, berdiri angkuh dan pongah dalam ketuaan usianya. Bangunan ini terasa sedikit berbeda dengan yang lain. Ada papan besi di depannya yang tertuliskan “Wisma IKIP” dengan besi yang sudah berkarat dan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, ditambah lagi dengan cat yang sudah mengelupas di sana-sini. Boleh dikata, kalau papan nama dan bangunannya sangat kompak dalam hal usia dan penampilan yang sangat tidak pantas untuk dikatakan sebagai tempat tinggal dosen-dosen pendidikan yang bekerja di IKIP atau Universiats Negeri Malang di kala ini.<span id="more-21"></span></p>
<p>Keberadaan aset pemerintahan Belanda seluas 5000 m2 tersebut, pada awalnya merupakan Hotel Spliendid. Hotel yang cukup terkenal itu, pada pemerintahan jaman Jepang digunakan sebagai kantor Reserse Kepolisian Jepang. Dan di jaman kemerdekaan setelah dinasionalisasikan oleh DPRD kota Malang, bangunan ini dijadikan kampus Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) yang pertama ada di Indonesia. PTPG ini diresmikan pada tanggal 18 Oktober 1954. Dalam perkembangan selanjutnya pada tahun 1968 bangunan ini dimanfaatkan menjadi sebuah Wisma milik IKIP yang sebelumnya digunakan sebagai ruang kelas oleh Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan milik Universitas Airlangga Surabaya di tahun 1950-an.</p>
<p>Bangunan yang diberi nama Wisma IKIP itu dijadikan tempat tinggal oleh asisten dosen dan pegawai administrasi IKIP. Dengan alasan ingin memikat para asisten dosen agar tidak lari dari lembaga pendidikan ini, para asisten mendapat jatah untuk rumah dinas. Hal ini dikarenakan kenyataan di zaman itu sangat sulit sekali mencari orang yang berpendidikan guru. Guru atau dosen dianggap pekerjaan kering dengan gaji yang sangat minim. Jadi perlu ada daya tarik tersendiri yaitu dengan pengadaan fasilitas rumah dinas tersebut. Sedangkan di jaman sekarang asisten tidak lagi mendapat jatah karena sudah banyak orang yang mau menjadi guru atau dosen, bahkan antrian untuk pekerjaan ini sangat panjang. Walaupun demikian, asisten yang akan mendapatkan fasilitas tersebut harus melewati saringan yang sudah ditetapkan oleh peraturan universiatas.</p>
<p>Menurut sumber di bagian Rumah Tangga, mereka yang berhak menghuni Wisma tua itu adalah dosen, karyawan dan asisten yang telah memenuhi syarat penilaian tertentu yang didasarkan pada lama pengabdian dan prestasi kerja selama mereka ada di lingkungan kerja di Universitas. Banyak nilai yang harus diperoleh tidak sama antara dosen, asisten dosen dan pegawai.</p>
<p>Dari informasi yang diperoleh dari Profesor Habib Mustopo yang memiliki ruang Wisma terluas yaitu kurang lebih 250 m2, sejak tahun 80-an UM sudah lepas tangan. Dengan kata lain, UM sudah tidak mengurusi segala macam kebutuhan penghuni ataupun bangunan Wisma itu sendiri. Fasilitas terakhir yang dibangun dengan biaya yang berasal dari kantong UM adalah pagar pembatas di depan Wisma. Keadaan pagar yang sangat memprihatinkan tersebut, menambah suasana suram pada bangunan peninggalan itu. Selain itu, menurut bapak yang sudah dua kali menjabat ketua wisma tersebut, kepemilikan listrik dan air serta telepon secara pribadi atau khusus untuk masing-masing rumat tangga diurus sendiri oleh masing-masing penghuni, inipun atas inisiatif dari bapak yang juga lulusan IKIP ini. Kejadian ini dipicu oleh terlalu seringnya terjadi percekcokan antar penghuni apabila terjadi pembengkakan biaya dan saat terjadi putusnya aliran listrik karena melebihi daya listrik yang seharusnya.</p>
<p>**Bagi masyarakat sekitar Wisma, keberadaan penghuni di dalamnya merupakan komunitas yang tergolong eksklusif. Dari informasi yang diperoleh dari tukang becak yang biasa mangkal di sekitar Wisma, penghuni bangunan kuno itu jarang keluar untuk bergaul dengan manyarakat sekitar. Mungkin hanya kaum ibu-ibu yang bergaul dengan warga lain, itupun hanya pada saat arisan PKK. Hal ini lebih diperparah lagi dengan hubungan antar penghuni yang tidak mengenal antar satu dengan yang lain. Keadaan yang demikian dikarenakan kebanyakan yang tinggal di sana adalah anak-anak mereka. Sedangkan para dosen itu sendiri telah memiliki tempat tinggal di tempat lain.</p>
<p>Perbuatan mereka tersebut oleh pihak universitas sepertinya tidak ambil pusing. Mereka acuh pada keadaan yang demikian. Pewarisan tempat tinggal ini sebenarnya bisa dibenarkan oleh hukum, dengan cara mereka membeli bangunan yang mereka tempati dengan harga murah. Karena undang-undang perumahan memperbolehkan pegawai membeli rumah dinas yang berada diluar kompleks universitas. Seperti yang terjadi pada kasus di jalan Bogor, serta kompleks perumahan IKIP yang lain. Terjadi sengketa antara salah satu dosen fakultas MIPA dengan adik kandung dari salah satu dosen yang sudah meninggal dunia yang dulunya merupakan dosen yang bertempat tinggal di salah satu rumah di jalan Bogor tersebut. Kasus tersebut dimenangkan pihak adik. Memang seharusnya jatah tinggal tersebut habis pada saat dosen yang berhak sudah meninggal dan pasangan hidupnya pun juga sudah meninggal. Namun karena perumahan tersebut berada di luar komplek universitas, maka bisa dibeli.</p>
<p>Fenomena-fenomena di atas harus mendapat perhatian yang lebih dari pihak universitas. Karena jika hal ini hanya dianggap sebelah mata, aset ini akan hilang dari genggaman ……</p>
<p align="right"><strong>:: Nur Ahita, dkk.</strong></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siar.endonesa.net/index.php/wisma-ikip.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pemberitaan Sensitif Gender, Sumbangan Besar Mewujudkan Demokrasi</title>
		<link>http://siar.endonesa.net/index.php/pemberitaan-sensitif-gender-sumbangan-besar-mewujudkan-demokrasi.htm</link>
		<comments>http://siar.endonesa.net/index.php/pemberitaan-sensitif-gender-sumbangan-besar-mewujudkan-demokrasi.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2005 00:52:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://siar.endonesa.net/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[
Revolusi teknologi ternyata tak banyak dimanfaatkan oleh pekerja media untuk membantu perempuan memperbaiki posisinya. Pencitraan perempuan di berbagai media massa di seluruh dunia masih lebih banyak bersifat stereotip sehingga tidak bisa dikatakan mewakili sesuatu yang lebih benar mengenai perempuan. Sampai Konferensi Dunia IV mengenai perempuan dan pembangunan di Beijing (1995), media dan jaringan alternatif khusus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry clear">
<p>Revolusi teknologi ternyata tak banyak dimanfaatkan oleh pekerja media untuk membantu perempuan memperbaiki posisinya. Pencitraan perempuan di berbagai media massa di seluruh dunia masih lebih banyak bersifat stereotip sehingga tidak bisa dikatakan mewakili sesuatu yang lebih benar mengenai perempuan. Sampai Konferensi Dunia IV mengenai perempuan dan pembangunan di Beijing (1995), media dan jaringan alternatif khusus untuk perempuan semakin berkembang dan dimanfaatkan secara efektif oleh organisasi mahasiswa dan kelompok-kelompok perempuan guna memperbaiki kesadaran sosial dan politik di antara perempuan dan anggota masyarakat Dengan demikian, media seharusnya dapat digunakan untuk mentransformasi pencitraan mengenai perempuan.<span id="more-13"></span></p>
<h2>Perjuangan Perombakan Kultur</h2>
<p>Upaya menghapuskan kekerasan dalam pemberitaan surat kabar, bukan hal yang mudah karena menyangkut perombakan kultur dan kerangka pikir wartawan dan editor. Apalagi bila bekerja pada wilayah mind set yang melahirkan suatu sikap tertentu, ideologi tertentu yang dipelajari seorang manusia sejak ia bisa berpikir, ditambah oleh pola asuh yang bias gender. Dengan demikian pemberitaan wacana sensitifitas gender saja tidak akan mampu membuat wartawan segera mamiliki kesadaran yang cukup pada inequality yang dialami perempuan. Kerja dalam tim seperti media cetak, membutuhkan toleransi dan penghargaan pada proses. Kemarahan dan ketidaktoleran hanya akan menjadi conter productive dan tidak akan membuat perubahan yang berarti.</p>
<p>Perjuangan untuk mencapai keadilan gender melalui pemberitaan dalam media massa masih membutuhkan waktu teramat panjang. Kekerasan terhadap perempuan dalam media massa tidak bisa dilepaskan dari posisi perempuan dalam masyarakat, karena struktur dan pemberitaan media massa sebenarnya adalah cermin situasi masyarakat itu sendiri. Dalam masyarakat terlanjur meyakini notion palsu yang mengatakan bahwa secara kodrati perempuan kurang pandai dan secara fisik lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki. Karena itu, sebagai besar masyarakat masih percaya pada pembagian kerja secara seksual yang mensubordinasikan perempuan, sektor “domestik” yang dikatakan sebagai sektor statis clan consumtif sebagai milik perempuan. Sedangkan sektor “publik” yang dicirikan sebagai sektor dinamis dan memiliki sumber kekuasaan pada perbagai sektor kehidupan yang mengendalikan perubahan sosial sebagai milik laki-laki.</p>
<p>Sejumlah stereotip lantas menempel pada perempuan dan laki-laki berdasarkan peran jenis kelamin itu. Ini diperkuat oleh kekuasaan negara UU No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang secara eksplisit menetapkan peran-laki-laki dan perempuan, maka dengan mudah ideologi yang diskriminatif ini tersosialisasikan, terinternalisasikan melalui pendidikan di semua lini, keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Wartawan dan struktur keredaksian juga menyerap nilai-nilai tersebut sehingga mudah tergelincir untuk melakukan kekerasan berganda terhadap perempuan korban kekerasan melalui bahasa dan konsep yang dipakai, atau sudut pandang berita yang dipilih, pemilihan gagasan dan keseluruhan gaya pemberitaan.</p>
<h2>Perspektif Perempuan dalam Media Massa</h2>
<p>Seluruh persoalan ini di dalam media massa juga tidak terlepas dari struktur modal yang kapitalistik. Industri media massa akan menempatkan berita-berita yang bersifat maskulin itu sebagai sesuatu yang utama, karena dianggap “menjual”. Ciri kapitalistik juga nampak dari dikalahkannya pemuatan berita demi iklan, meski iklan dijadikan alasan utama suatu media massa dapat bertahan.</p>
<p>Penulisan berita dan artikel atau tulisan apapun (juga gambar) yang berperspektif perempuan bukan tidak mengandung kontradiksi. Bahkan mengandung resiko dituduh mengekalkan mitos masochisme perempuan, rasisme, narcisis, memalukan, buruk, efensif, dan menentang konsepsi tentang apa dan bagaimana seharusnya.</p>
<p>Suara perempuan adalah suara yang terbisukan. Sistem politik yang represif telah mengawasi perempuan secara ketat, mengontrol secara dominan, tidak memungkinkan cara berpikir lain daripada yang dikehendaki penguasa, menyudutkan dan menyempitkan dan akhirnya menundukkan. Ini juga dilakukan melalui bahasa, karena membicarakan media massa media yang diekspresikan melalui bahasa tulis dan lisan. Sebagai wacana baru (newspeak), bahasa bukanlah sekedar alat komunikasi. Ia merupakan kegiatan kegiatan sosial yang terstruktur dan terikat pada keadaan sosial tertentu.</p>
<h2>Posisi Media Massa</h2>
<p>Namun perubahan semacam ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada semacam cara pandang, budaya berpikir yang harus dirombak dalam struktur besar keredaksian, serta pembongkaran sikap dan cara pandang personal di kalangan wartawannya. Dalam sebuah diskusi Lembaga Pers Mahasiswa, pada umumnya pekerja media memiliki kesadaran memadai mengenai masalah-masalah HAM. Namun masih perlu perbaikan yang signifikan dalam kognisi, maupun afeksi. Jurnalis harus memanfaatkan semaksimal mungkin informasi, komunikasi, dan pendidikan untuk memajukan perdamaian, HAM, dan demokrasi.</p>
<p>Tetapi apa keterkaitan antar demokrasi dan perempuan? Sejarah bisa menjadi titik tempuh untuk memaparkan pergerakan posisi perempuan mulai dari pemegang peranan yang kuat dalam komunitas sampai terjadinya subordinnasi terhadap mereka. Sejarah kemudian memang memperlihatkan bahwa sejarah perempuan lebih banyak dilekatkan pada subordinasi. Padahal inti demokrasi adalah kesetaraan hak dan kewjiban, dan keadilan yang didasarkan kesetaraan tadi.</p>
<p>Jadi, sehebat apapun posisi seorang pemimpin media berbicara soal demokrasi, tetapi ia meragukan atau bahkan menisbikan persoalan kesetaraan dalam hubungan perempuan-laki-laki, maka ia bukanlah demokrat sejati. Seorang pemimpin di dalam media yang masih mengartikan feminisme sebagai pembalikan perempuan dan laki-laki atau bahkan menuduh feminisme dan gerakan kesetaraan gender sebagai gerakan untuk menindas laki-laki, maka secara tidak sadar dia telah memposisikan dirinya sebagai penindas.</p>
<p>Mengapa? Karena kesadaran ditindas hanya ada pada golongan penindas. Pada banyak kasus, orang tertindas malah tidak merasa ditindas karena manipulasi berbagai nilai yang dikukuhi dalam kehidupan masyarakat atau malah melakukan adjustment terhadap penindasan itu dan kemudian mereplikasikannya kepada pihak lain yang lemah. Karena itulah kesadaran perempuan tentang masalah penindasan ini harus dibongkar. Hanya dengan itu maka seluruh gerakan kesetaraan bisa mencapai tujuannya. Dalam hal ini media sebagai kekuatan keempat (the fourth estate) berperan sangat besar untuk pergerakan permpuan, namun sebaliknya media bisa digunakan untuk menahan laju pergerakan perempuan, atau bahkan memundurkan kembali. Inilah yang disebut split personaliy dari media: ia bisa menjadi agen pembaharu, tetapi sekaligus menginginkan kemapanan sehingga enggan membongkar situasi status-quo, karena merasa hal-hal itu tidak populer, yang akhirnya mengganggu bisnis media.</p>
<p>Namun bagaimanapun harus diingat, media main steram berurusan dengan pemodal yang lebih mempedulikan kenginan pasar ketimbang perbaikan posisi dan kesejahteraan perempuan dan kelompok masyarakat yang dilemahkan lainnnya. Meski demikian, ketidakpedulian media main stream ini bukan jalan buntu yang tidak bisa ditembus. Selalu ada jalan dengan kecerdasan membungkus isu, sehingga akhirnya secara perlahan tetapi pasti, isu-isu kesetaraan dan keadilan gender menjadi isu yang kian membesar dan penting dan harus diterapkan dalam setiap persoalan.</p>
<hr />
<p align="right"><strong>Akhmad Junaedi Azhar</strong></p>
<p>*Masih membiasakan dengan sebiasa-biasanya. Masih nongkrong namanya di bidang tiga Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP_UM) yang ngurusi logistik, atau malah diurusi sama logistik. Hidup logis…tik. mahasiswa yang kebetulan pernah concern masalah gender, ingin memvisualisasikan dalam pemberitaan media. Kok sulit yach.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://siar.endonesa.net/index.php/pemberitaan-sensitif-gender-sumbangan-besar-mewujudkan-demokrasi.htm/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
