PERKOSAAN DALAM PEMBERITAAN MEDIA DAN AKIBAT BAGI KORBAN
Filed Under (Makalah) by redaktur on 26-11-2007
Kasus pemerkosaan akhir-akhir ini sering terjadi. Sebenarnya nyaris setiap hari selalu dapat ditemui kasus tindak perkosaan yang menimpa perempuan. Secara statistical di Indonesia diperkirakan rata-rata setiap hari terjadi 5 sampai 6 perempuan diperkosa atau setiap 4 jam minimal terjadi satu kasus perkosaan (Republika, 29 Mei 1994).Di Jakarta, angka kasus perkosaan mengalami kenaikan. Bahkan kasus perkosaan terkorek 20,22 persen dari 89 kasus tahun lalu menjadi 107 kasus (Jawapos, Kamis, 2 Januari 2003). Sudah menjadi kesepakatan umum bahwa korban perkosaan itu adalah wanita. Ia harus menanggung beban atas akibat tindakan perkosaan itu, baik beban secara fisik maupun psikologis. Di Amerika, sebuah studi dilakukan Linda E. Lediay terhadap korban perkosaan setelah 2 sampai 3 jam kemudian menemukan dampak dan kaibat sebagai berikut: 96 persen korban mengal;ami gemetar dan menggigil tak henti, 68 persen korban mengalami rasa pusing, 68 persen mengalami kekejangan oto yang hebat, 65 persen mengalami sakit kepaal, nyeri yang hebat. Sedangkan Sujeerman Marzuki (1997) mengemukakan bahwa ” untuk periode post-rape (pasca perkosaan), 96 persen rasa lelah secara psikologis, 88 persen kegelisahan tiada henti, 88 persen terancam, dan 80 persen diteror oleh keadaan. Selain itu, jka korban perkosaan adalah anak-anak maka kemungkinan mereka dapat pulih akan jauh lebih sulit.
Mereka cenderung akan mengalami menderita trauma akut (Geiser, 1979).Masa depannya akan hancur, dan bagi yang tak kuat menanggung beban, pilihan satu-satunya adalah bunuh diri. Acapkali terjadi, perempuan korban perkosaan, sesudahnya tidak dapat lagi melakukan hubungan seksual yang wajar karena menderita vaginesmus, di mana otot dinding vagina selalu berkontraksi atau menguncup ketika melakukan hubungan kelamin, sehingga sulit dilakuka penetrasi. Bahkan, dalam beberapa kasus sempat terjadi dspaveonia, yaitu rasa nyeri atau sakit yang dirasakan sabagai penderitaan bila dilakukan senggama (Toni Setiabudi, 1 Agustus 1995) Pria, Wanta, dan Media Massa Seorang pria mendebat Ibu Sinta Nuriyah soal pelecehan seksual, saat beliau menjadi pembicara dalam pembukaan Pekan Amal HAyati di Pondok Pesantren Dir-Al-Tauhid Cirebon, Jawa Barat, Minggu siang (Detik.com, 13 januari 2001). Pria yang bernama Akhsan itu mengatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan termasuk pelecehan seksual, sebenarnya karena kesalahan perempuan sendiri.
Pasalnya, kaum hawa ini dalam berpakaian selalu seronok sehingga bukan salah pria bila memperkosanya. Mendengar hal itu, dengan suara tenang Ibu Sinta mengatakan, bila kadar keimanan seseorang tebal, meskipun seorang perempuan telanjang di hadapannya tidak akan terjadi apa-apa. Sedangkan menurut Nasarudin Umar, Purek III IAIN Syari Hidayatullah, “Pakaian yang seronok tidak berbanding lurus dengan banyaknya pemerkosaan. Hal ini bisa dilihatdari rendahnya pelecehan seksual di Irian. Padahal pakaian kaum perempuannya sangat minim. Emikian pula di Amerika Serikat dengan budayanya yangsangat bebas dan cara pekainnya yang sangat terbuka justru tingkat pelecehan seksualnya jauh lebih rendah disbanding Indonesia. Perdebatan yang dilansir Detik.com di atas seikit banyak bisa membantu mencari penyebab terjadinya kasus perkosaan. Apakah dari segi pria, wanita, ataukah justru media yang memberitakannya? Pria Barangkali slah satu jenis manusia inilah yang dianggap sebagai biangnya kasus perkosaan. Sudah menjadi kesepakatan umu bahwa dikarenakan pria berbuat tindakan perkosaan, maka pria mendapat gelar pelaku, sedangkan wanita mendapat gelar korban. Jika kita berpikir tentang suatu sebab akibat, sebab-sebab pria memperkosa wanita itu bisa terumuskan.
Pertama, kaum pria lebih cepat terangsang disbanding kaum wanita, demikianlah yang dituturkan Nurul Arifindalam seminar Pornografi di Auditorium Gedung D lantai 2 UK Petra. “Itu namanya factor internal yang melekat secara alami yang melekat sejak kita lahir”. Kedua adanya anggapan bahwa pria tidak perjaka itu biasa. Menurut hasil polling mengenai pria yang tidak perjaka lagi, 67,1 persen mengatakan biasa saja, 31,3 persen tidak pernah, dan 1 persen menyatakan itu adalah sesuatu yang baik (Jawapos, Kamis, 5 Juli 2001, hal 25, “Cowok Tak Perjaka itu Biasa”). Adanya anggapan itu membuat pria terdorong untuk melakukan pelecehan. Dalam diri pria itu tidak ada perasaan malu karena kehilanagn keperjakaannya. Definisi keperjakaan masih terlalu abstrak, secara umum masyarakat beranggapan, seorang lelaki sudah tidak perjaka lagi bila pernah melakukan hubungan seks dalam arti penetrasi penis ke dalam vagina. Di sinilah pusat kerancuan status lelaki dianggap perjaka atau tidak. Secara social budaya budaya masyarakat tidak terlalau memperhatikan keperjakaan. Jadi, berbeda dengan yang dirasakan perempuan, seorang pria tidak merasakan adanya beban social (Dr. Dede Oetomo, Jawapos, Kamis, 5 Juli 2001, hal. 25). Masyarakat tidak terlalu memperhatikan keperjakaan dikarenakan, perjaka atau tidaknya pria hanya dapat diketahui dri pengakuannya sendiri (Surendro Prasetyo, Jawapos, kamis, 5 Juli 2001, hal. 25). Wanita Tubuh wanita adalah pembangkit syahwat pria yang memandangnya. Apalagi jika wanita itu mengumbat aurat dan enggan untuk menutupinya. Di masyarakat barat (Eropa dan Amerika) terbukanya aurat sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan terkadang mereka berbagi ria untk mendapatkan sesuatu. Di Jerman Utara, tepatnya di kota Hanuver ada sebuah kejadian menarik. Masyarakat rela berbugil ria untuk mendapatkan belanja gratis senilai 555 Mark Jerman atau senilai 2,7 juta Prony bagi 55 pengunjung pertama (Jawapos, Jumat, 6 Juli 2001, hal 1, “Bugil DemiBelanja Gratis). Dunia barat yang terkenal dengan sekulernya, menganggap caar berpakaian yang sekenanya adalah hak asasi. Di sana, batas antara erotis dan pornografi sangat tipis, sehingga sulit dibedakan antara hal yng masih dalam konteks erotis dengan porno. Di san, caar berpakaian yang sekenanya menutupi urat bagi waniat adalah suatu hal yang lumrah. Bahkan mereka merasa bangga jika diekspose melalui media massa. Beredarnya gambar-gambar erotis melalui media itulah merupakan peran serta media dalam terjadinya kasus perkosaan. Gaya hidup di barat seperti yang digambarkan di atas ternyata ditiru oleh masyarakat Indonesia. Parahnya, yang meniru itu adalah golongan para arti dan selebritis yang selama ini dijadikan figure oelh masyarakat. Akhirnya, mau tidak mau masyarakat menerima gaya hidup seperti itu dan menjadikannya sebagai gaya hidupnya. Media Peranan media dalam terjadinya kasus perkosaan adalah sebagai perantara atau penyebar yang memicu perkosaan, yaitu penyebar erotisme di masyarakat. Dengan berdalih kebebasan pers, seringkali mengekspos hal-hal yang berbau erotisme agar medianya itu laku keras sehingga masyarakat dengan terpaksa menerimanya sebagai bagian dari hidupnya. Beredarnya gambar-gambar erotis melalui media itulah merupakan peran serta media dalam terjadinya kasus perkosaan. Antara Pria, Wanita dan, Media Gambaran di tas adalah bagian-bagian yang melatarbelakangi terjadinya kasus perkosaan. Dari ketiga bagian di atas tidak bisa disalahkan pada salah satu bagian saja. Pria melakukan perkosaan karena sudah tidak tahan menahan gejolak yang da dalam tubuhnya. Wanita disalahkan karena tidak bisa menjaga cara berpakaiannya agar tidak terlihat sembarangan oleh pria. Sedangkan media pada segi penyebaran erotisme.
M.S. Munir



