DEKONSTRUKSI KEEGOAN DAN KEAWAMAN PADA MAKNA KEHIDUPAN
Filed Under (Resensi) by redaktur on 09-01-2005
Adakah gunanya berfilsafat?” pertanyaan itu yang semula akan disodorkan kepada pembaca pada halaman v sebagai Pra-Meditasi. Sebelum kita berada pada pemikiran Karl Britton_dari penerjemah_pembaca diantarkan pada suatu kondisi pra meditasi. Yang tertangkap di sini adalah bahwasannya ketika kita membaca buku itu nantinya maka di situlah kita berada pada kondisi meditasi, merenungi, dan menata ulang apa yang telah ada melekat dalam pemikiran kita. Suatu pengantar yang ringan, yang mampu menjadi “warming up” bagi pembaca, menunjukkan betapa indahnya berfilasafat.
Buku yang memang terkategorikan filsafat ini mencoba memberikan sajian kajian atas makna kehidupan. Dan bila kita baca sepintas dari judul buku ini, kita temui kata-kata “dekonstruksi atas makna kehidupan”, maksud dari penulis buku ini yaitu Karl Britton mencoba untuk mengupas satu demi satu, sisi demi sisi atas kehidupan yang selama ini menjadi wacana dan pemikiran umum manusia dengan didekontruksi pada kontraposisi dari yang ada (umum) tersebut.
** “Apa makna kehidupan?” dan “Apa tujuan dan alasan seseorang untuk menjalani kehidupan?” menjadi dua pertanyaan yang awal akan coba dikupas di Bab I ( Bab. Dua Pertanyaan). Secara awam, manusia akan menjawabnya dengan memposisikan dari sudut dirinya sendiri, atau dari seorang pemula, sebagai latar belakang untuk meyakini filsafat sebagai metode terbaik. Menurut penulis, dalam melihat filsafat _menyalami kedalaman diri_maka perlu melihat alam semesta dan tidak hanya dari sudut pandang subyektifitas. Pertanyaan tentang makna kehidupan itu sendiri pun kurang dipertanyakan, sedangkan yang kerap muncul adalah pertanyaan tentang diri sendiri dari tiap individu. Pertanyaan kedua bisa terjawab bila diperluas dengan menanyakan tentang kehidupan yang lebih luas dahulu_alam semesta_ baru ditarik ke sudut individunya.
Berlanjut ke jawaban-jawaban otoritatif, terkait dengan teologi pada khususnya. Apa yang menjadi bagian bersifat principil lebih dikuatkan di bab II ini. Hal-hal yang telah diketahui manusia tentang sifat kekuasaan tunggal-Nya akan diperkuat dengan argumen logika dan inti ajaran agama secara umumnya. Namun tidak sepenuhnya juga pengetahuan umum manusia itu benar sepenuhnya. Opini dan falsafah umum diidentifikasikan pula dengan cara yang sama hingga nantinya ada dua sisi yang mengena.
Di lain bab, penulis mencoba mendalami anggapan yang menyatakan inti kehidupan yang dijalani bukan harus dicari dalam tujuan atau capaian-capaian praktis, tapi dalam mengetahui, memahami dan merenungkan kebenaran. Ada hal-hal yang dipertentangkan seperti keberadaan tataran praktis dan teoritis tidaklah sama dengan kerasionalan. Atau di lain hal adanya pohon pengetahuan bukanlah pula akan menjadi pohon kehidupan. Hakekat manusia yang selama ini dimunculkan tidaklah bisa berasal dari pikiran dan imaji tiap individu. Jadi arti dan kebenaran dapat diperoleh secara metafisis dan bukan dari teori atau arti yang dimunculkan tiap individu.
Menurut Aristoteles, kebaikan tertinggi adalah kesenangan. Melakukan sesuatu yang menyenangkan seringkali berarti melakukannya demi perbuatan itu sendiri. Untuk menentukan makna tersebut haruslah sesuatu yang dilakukan dan dinikmati demi dirinya sendiri. Hal-hal itulah yang pada akhirnya menguatkan pendapat Aristoteles di awal paragraf ini. Jawaban-jawaban informal yang dimaksudkan adalah jawaban awam dan umum yang terlontar dengan spontan dan jujur.
Saat melihat, menilai, dan mengetahui dari segi teoritikal serta ortodoks (sekali lagi) bukan berarti metode itu menjadi penyelesai sempurna, final, atau bahkan lebih baik dari metode lainnya. Prosedur ilmiah bukan satu-satunya yang harus ditempuh untuk menjawab pertanyaan teoritis alami.
Bab lain yang masih berisi pertanyaan dan jawaban tentang kehidupan adalah tentang diri individu dan dunia. Pertanyaan filosofis yang dari awal kerap dimulai dengan menarik dari subyektifitas mampu terjawab dengan cara mencoba menjelaskan hubungan logis antara banyak pernyataan dan pertanyaan yang berbeda-beda lalu disusun hingga dapat dilihat kesamaan dan perbedaan, dianalisa bagaimana hal tersebut diekspresikan dan diterapkan dalam konteksyang berbeda.
Sedari awal kita disuguhkan oleh berbagai kelompok pertanyaan dan jawaban. Di Bab VII, pembaca akan disuguhkan tentang pertanyaan-pertanyaan praktis, pertanyaan yang membutuhkan pembuktian untuk menguatkan apa yang kita miliki, berlawanan dengan teoritis di mana orang dapat tahu jawabnya tanpa harus ada praktek aktual. Berusaha untuk meragukan preposisi adalah masalah inti dalam pertanyaan-pertanyaan praktis.
Di dua bab akhir dalam buku ini pembaca diajak untuk memahami dan mencari makna dengan mengutik dunia dan Tuhan tidak hanya dari subyektifitas. Manusia dan agama bisa menjadikan setiapnya (manusia dan agama) berparameter dan berparadigma berbeda.
Secara keseluruhan buku ini dapat ditujukan bagi mereka yang masih awal dalam mengetahui filsafat. Namun tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang telah jauh dan dalam mengetahui filsafat karena sifat dekonstruktifnya. Bahasa yang digunakan juga mudah dipahami karena faktor penerjemah sehingga buku ini menjadi mudah diterima untuk dimengerti oleh pembaca. Kupasan dalam mengkaji kelumit demi kelumit makna kehidupan begitu fundamentalis sehingga ini mempermudah pembaca untuk mengikuti secara gradual hingga ke tahap akhir buku tersebut.
Identitas Buku
Judul : Philosophy and The Meaning of Life
Penulis : Karl Britton
Penerjemah : Inyiak Ridwan Muzyir
Penerbit : Cambridge University Press, 1971
Diterbitkan di
Indonesia oleh : Ar-Ruzz, 2002
Tebal buku : x + 280 halaman



