Bagaimana Kabar Acehku Hari Ini?
Filed Under (Esai) by redaktur on 26-11-2007
Lebih dari sebulan yang lalu, bencana Maha Dahsyat Tsunami telah meluluh lantakkan bumi Nangroe Aceh Darussalam. Betapa seluruh mata dunia langsung tertuju pada satu titik emphasis di sana. Ribuan nyawa melayang, bangunan-bangunan hancur lebur, hanya terdengar jeritan dan tangisan pilu dari mereka. Mereka yang kehilangan keluarga, teman, saudara dan semua hal yang mereka cintai. Sungguh musibah akbar ini tak pernah diduga sebelumnya akan terjadi. Seolah masih sebuah mimpi di siang hari. Ketika semua orang sibuk bekerja, ketika anak-anak bersemangat mengikuti pelajaran di sekolah, ketika ibu-ibu sibuk memasak di dapur, bahkan ketika seorang ibu menyusui anaknya yang masih kecil, air bah maha besar itu datang menjemput mereka. Dengam membawa lumpur hitam yang mau tak mau membuat mereka terseret. Apalah daya kekuatan yang mereka miliki tak sanggup untuk melawan terjangan Tsunami itu.
Sejak musibah gempa dan tsunami sampai saat ini sendiri jumlah korban tewas dan hilang mencapai 230 ribu jiwa, untuk Aceh saja ditambah ribuan lainnya dari daerah lain. Banyak bantuan dari pemerintah, masyarakat, relawan-relawan lokal maupun asing, bahkan dari dunia internasional. Salah satu bantuan internasional yang diterima Indonesia adalah dari United Nation Development Project (UNDP). UNDP bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia dalam penanggulangan sampah pasca Tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam proyek penanggulangan sampah ini, UNDP akan melibatkan 30 ribu tenaga kerja lokal yang direkrut dari sejumlah daerah yang terkena gempa dan gelombang tsunami. Di Banda Aceh sendiri, penanggulangan sampah ini akan melibatkan seribu pekerja. Para pekerja pembersihan ini nantinya akan diberi upah harian, pelatihan kesehatan dan keselamatan. Selain itu, mereka juga dibekali pakaian kerja yang layak dan juga vaksinasi kesehatan. UNDP juga mengharapkan para pemulung untuk ikur serta.
Berdasarkan survei singkat Tim UNDP di Banda Aceh dan Meulaboh, sejauh ini hanya sampah-sampah yang ada berasal dari tanah, puing bangunan dan sampah vegetatif, seperti kayu dan dahan pohon. Selain sampah organik, juga ditemukan plastik, besi dan sampah lainnya yang tidak teridentifikasi. Sejauh ini, berdasarkan survei singkat tersebut, belum ditemukan adanya sampah organik yang berbahaya.
Selain dari pihak asing, pemerintah Indonesia sendiri juga telah memberikan sumbangsihnya yaitu berupa pemberian bantuan-bantuan, baik berupa materiil maupun penyediaan jasa para relawan. Tak hanya itu saja, pemerintah Indonesia pun kini berencana untuk membangun sistem peringatan dini seperti di daerah Jepang yaitu berupa perlindungan pantai berbasis struktur, seperti alat pemecah ombak. Diperkirakan pembangunan itu akan menghabiskan dana sekitar 30 juta USD. Dana sebesar itu belum termasuk biaya pemeliharaannya.
Menyikapi rencana pembangunan ini biaya sebesar itu mungkin dirasa terlalu mahal. Selain itu dengan adanya alat seperti itu masih dirasa kurang efektif karena hanya berfungsi dalam waktu singkat sebelum menerjang wilayah pesisir terdekat. Padahal terbukti di kawasan pantai Simeulue, pulau terdekat dari episentrum gempa, relatif lebih aman. Di pulau itu, Tsunami merenggut korban jiwa sejumlah 10 orang, dengan kerusakan yang relatif kecil dibandingkan wilayah Aceh Utara dan wilayah-wilayah lainnya. Pulau tersebut juga relatif aman, karena adanya perlindungan green belt. Sistem perlindungan alami yang dibentengi hutan mangrove akan mampu meredam sebagian energi gelombang tsunami. Jadi ekosistem-lah yang berjasa besar dalam menyelamatkan masyarakat Pulau Simeulue. Lingkungan yang terawat dengan baik akan berbalik memberikan perlindungan terbaik di kala keganasan alam mengancam.
Sehingga, rencana pembangunan sistem penanggulangan dini itu perlu ditinjau ulang. Apa tidak lebih baik kalau kita memfokuskan pada perbaikan ekosistem mangrove di sekitar pantai yang kini mulai terancam punah terlebih dahulu, baru kemudian kita membeli sistem peringatan dini tersebut ? Sebab, tak dapat dipungkiri bahwa alam lebih banyak berperan penting dalam hal ini.
Selain masalah penanganan korban, pada masa pasca Tsunami ini juga masih sempat terjadi perundingan antara delegasi RI dengan GAM pada hari Jumat tanggal 28 Januari 2005 untuk melakukan pertemuan informal membicarakan masa depan Aceh pasca Tsunami.
Dari pertemuan antara dua delegasi tersebut terdapat sasaran atau kesamaan pandangan atas apa yang terjadi di Aceh pasca tsunami atau yang mereka sebut sebagai syarat besar bagi Aceh pasca tsunami.
Pada intinya perundingan ini agar bantuan kemanusiaan berjalan lancar.Kedua delegasi bertemu atas dasar inisiatif, baik untuk kepentingan masyarakat Aceh yang sudah terlalu lama menderita apalagi tambah menderita akibat tsunami karena itu mereka pada prinsipnya memang membicarakan bagaimana Aceh kembali.
Hal yang menjadi semangat nominasi pertemuan ini adalah kini Aceh membutuhkan bantuan yang tidak sedikit, tidak saja berupa tenaga manusia dari relawan tapi juga bantuan pembangunan dan investasi kontraktor. Maka itu semua tidak mungkin direalisasikan ketika kondisi Aceh dalam keadaan yang tidak aman, ketika selalu terjadi kontak senjata yang mengganggu keamanan. Karena itu prinsip dasar dan kesamaan pandangan dalam pembicaraan itu adalah bagaimana niat baik untuk melihat Aceh ke masa depan membantu memulihkan Aceh tanpa gangguan keamanan.
Di sinilah dibuktikan bahwa dengan persatuan dan kesatuan Aceh kita tercinta akan segera bangkit dari keterpurukannya selama ini. Apalagi melihat kondisi Aceh sekarang ini yang tampaknya telah mengalami sakit secara fisik dan psikologis. Kalau selama ini media-media telah menyebutkan kerugian fisik dan materiil yang diderita Aceh sekaligus penanganannya, lalu bagaimana dengan kerugian psikis yang dialami warga Aceh ? Sudahkah tertangani dengan baik ?. Rupanya hal ini pula yang menjadi perhatian pemerintah. Pemerintah Indonesia juga tak tinggal diam melihat fenomena ini, Hal ini terbukti dengan dikirimkannya para psikolog-psikolog profesional untuk membantu menangani kondisi masyarakat pasca Tsunami.
Acehku hari ini memang berbeda dengan Acehku sebulan yang lalu, tapi bukan berarti kita hanya diam saja melihat fenomena ini. Tentunya Acehku hari ini sudah lebih baik dari sebulan yang lalu. Berduyun-duyunnya bantuan yang datang dari berbagai penjuru dunia, sedikit banyak memompakan semangat kebangkitan untuk Acehku kini. Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari sini bahwa betapa keagungan Tuhan sebagai pencipta alam tak mampu tertandingi oleh makhluk sekecil ini. Juga menjadi peringatan bagi kita sebagai bangsa Indonesia untuk selalu menggalang solidaritas antar sesama. Masihkah dengan bencana ini kita berani melalukan korupsi ? Masihkah dengan bencana ini kita bernai melakukan kolusi ? Kita cukup diuji oleh Tuhan dengan hal ini.
Tergantung dari iman yang ada di hati kita. Mampukah kita melawan nafsu duniawi ini ? atau malah semakin hanyut, lebur dengan memanfaatkan situasi serba sulit sekarang ini ?. Kita sudah diingatkan Tuhan dengan sangat arif. Sudah sepatutnya kita mengambil hikmah dari semua ini. Bahwa tak ada yang lebih kuasa dari Tuhan. Sehingga, Ia bisa menurunkan adzab kapan pun Ia mau, jika Ia terus menerus melihat tingkah polah kita sebagai seorang manusia yang tak pernah berhenti melakukan perbuatan-perbuatan menyimpang. Bekum cukupkah Aceh sebagai buktinya ??!! (Ratih Putri)



